Ahli gizi dari Universitas Airlangga (Unair), Lailatul Muniroh, mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kualitas tidur selama bulan Ramadan. Perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas malam hari seringkali mengganggu ritme istirahat, padahal tidur yang cukup krusial bagi kesehatan tubuh.
Menurut Lailatul, penataan ritme istirahat sebaiknya dimulai sejak awal puasa agar tubuh tetap bugar saat menjalani aktivitas harian dan ibadah. Ia menyarankan beberapa langkah sederhana, seperti tidur lebih awal, menghindari kebiasaan scrolling gawai sebelum tidur, tidak begadang tanpa alasan mendesak, serta membatasi durasi tidur siang.
“Tidur siang cukup 20–30 menit untuk memulihkan energi,” ujarnya.
Selain itu, Lailatul juga menyarankan untuk mengurangi konsumsi kafein saat berbuka puasa. Aktivitas fisik ringan di pagi hari serta sahur dengan gizi seimbang juga dapat membantu menjaga stamina sepanjang hari.
Dampak Pola Tidur Tak Teratur
Lailatul menegaskan, perubahan pola tidur selama Ramadan dapat berdampak luas terhadap kesehatan, mulai dari gangguan konsentrasi hingga masalah metabolisme. Pola tidur yang tidak teratur, seperti begadang hingga dini hari, dapat menimbulkan kantuk di siang hari, penurunan konsentrasi, perubahan suasana hati, sakit kepala, hingga menurunnya daya tahan tubuh.
Dalam jangka menengah, kondisi tersebut berisiko meningkatkan hormon stres, memicu nafsu makan tak terkontrol saat berbuka, kenaikan berat badan, gangguan regulasi gula darah, serta ketidakseimbangan hormon lapar.
Tak hanya kekurangan tidur, kelebihan tidur pun berpotensi menimbulkan masalah. Tidur siang terlalu lama dapat menyebabkan pusing saat bangun dan membuat sulit tidur di malam hari.
“Ramadan adalah momen belajar pengendalian diri sekaligus melatih kedisiplinan hidup. Tidur yang teratur bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi bagian dari menjaga tubuh. Ibadah yang optimal lahir dari tubuh yang sehat,” tandas Lailatul.
sumber gambar: gesit.id 