Satuan tugas (satgas) terpadu Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, terus memperkuat kegiatan patroli dan pembersihan sisa-sisa bara api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area-area terdampak. Langkah ini diambil menyusul masih adanya sejumlah titik yang berpotensi menimbulkan kembali kebakaran.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong, Moh Rivai, menjelaskan bahwa fokus saat ini adalah pada pembersihan bara api. “Sekarang lebih kepada kegiatan patroli sembari pembersihan sisa bara api menggunakan alat manual berupa tanki semprot,” kata Rivai dihubungi dari Palu pada Selasa, 10 Februari 2026.

Rivai menambahkan, meskipun sebagian besar area terdampak telah teratasi, masih ada titik-titik yang bara apinya belum sepenuhnya padam. Kondisi ini diperparah dengan medan yang sulit dijangkau, terutama di atas gunung dengan waktu tempuh berjalan kaki sekitar 60 menit. “Kondisi ini menjadi tantangan kami di lapangan, meski begitu kami optimis situasi ini bisa diatasi berkat kekompakan tim di lapangan,” ujarnya.

Data sementara yang dirilis tim terpadu penanggulangan karhutla menunjukkan bahwa luas lahan terdampak telah mencapai sekitar 149,2 hektare, meningkat dari sebelumnya 147 hektare. “Hingga hari ke sembilan bencana karhutla, kami terus bersiaga sembari membersihkan sisa-sisa bara api, supaya tidak berpotensi menimbulkan kebakaran,” tegas Rivai.

BPBD juga meminta pemerintah kecamatan dan desa untuk segera merampungkan pendataan lahan warga yang terdampak karhutla. Data ini penting untuk dilaporkan kepada kepala daerah guna tindak lanjut penanganan.

Menanggapi usulan pelibatan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat setempat dalam edukasi serta penegakan hukum bagi pelaku pembakaran lahan, Rivai menyambut baik. “Usulan itu bagus, kami segera mengadakan pertemuan dewan adat, rokok masyarakat maupun tokoh agama setempat, sebagai upaya pencegahan dan pelibatan masyarakat dalam penanggulangan karhutla,” tutur Rivai.