Sebuah pementasan ludruk besutan bertajuk “Batu Batu Bersuara” siap mengguncang panggung Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto pada Kamis, 7 Mei 2026. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah medium artistik yang secara tajam mengangkat persoalan krusial di Mojokerto: isu situs sejarah dan aktivitas pertambangan batu yang kian mengancam.
Agenda yang akan dimulai pukul 10.00 WIB ini merupakan bagian dari rangkaian tur “Besut Jajah Deso Milangkori”, sebuah karya seniman Meimura. Setelah berkeliling di empat kota, panggung kampus dipilih secara khusus untuk menjangkau kalangan mahasiswa dan memperkenalkan kembali seni tradisi dalam format yang lebih dekat dengan generasi muda.
Ludruk Garingan: Kritik Sosial Tanpa Panggung Megah
Meimura, yang memiliki nama asli Meijono, dikenal dengan pendekatannya yang memadukan gaya teater modern dengan tradisi ludruk melalui format Besutan. Ia tampil sebagai aktor tunggal dengan pendekatan yang spontan, penuh humor, namun sarat dengan kritik sosial. Konsep ludruk garingan yang diusungnya memungkinkan pertunjukan digelar tanpa panggung megah maupun iringan gamelan, menjadikannya fleksibel untuk berbagai ruang, termasuk lingkungan kampus, dengan pendekatan yang cair dan improvisatif.
“Saya ingin mengajak anak muda mencintai ludruk dan ikut mengembangkan tanpa harus bergantung pada biaya besar,” ujar Meimura, menegaskan visinya untuk regenerasi seni tradisi.
Dilema Penambang dan Ancaman Situs Sejarah
Isu yang diangkat dalam “Batu Batu Bersuara” berangkat dari realitas lokal Mojokerto. Batu, yang selama ini akrab digunakan masyarakat sebagai umpak rumah, cowek, hingga bahan akik, menjadi pintu masuk cerita. Konflik utama muncul dari perdebatan dua tokoh, Sumo Gambar dan Man Jamino, yang sehari-hari bekerja sebagai penambang pasir dan batu.
Keduanya digambarkan mulai menyadari dampak serius aktivitas tambang terhadap lingkungan serta ancaman nyata terhadap situs-situs bersejarah. Kesadaran ini justru memunculkan dilema mendalam, karena sumber penghasilan mereka ikut terancam. Cerita kemudian berkembang dari satu persoalan menjadi beragam tafsir, di mana ada yang melihat batu sebagai warisan masa lalu, sementara yang lain memandangnya sebagai komoditas ekonomi. Ketegangan inilah yang menjadi inti dramatik pertunjukan.
Selain tampil solo, Meimura juga menggandeng dua aktor lokal Mojokerto, Kukun Triyoga dan Taufik, untuk memperkuat dinamika panggung. Keduanya memerankan tokoh-tokoh yang terlibat langsung dalam konflik utama cerita, menambah kedalaman narasi.
Kampus sebagai Arena Dialog Budaya
Usai pementasan, acara akan dilanjutkan dengan sesi sarasehan yang menghadirkan narasumber terkemuka. Ketua FPK Jatim, Ki Bagong Sinukarto, dan akademisi UNIM Mojokerto, Achmad Fatony, dijadwalkan hadir untuk berdiskusi. Sesi ini akan dipandu oleh Henri Nurcahyo, membuka ruang dialog yang lebih luas.
Melalui pentas ini, kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang akademik, tetapi juga bertransformasi menjadi arena dialog budaya yang vital. Mahasiswa diajak untuk melihat seni tradisi sebagai medium yang masih sangat relevan untuk membaca dan merespons persoalan sosial hari ini, termasuk isu lingkungan dan pelestarian situs sejarah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Mojokerto.
