Jamaah Muhammadiyah di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), telah melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026. Pelaksanaan ibadah ini mendahului ketetapan pemerintah yang menetapkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Muhammadiyah Gelar Shalat Id Lebih Awal

Shalat Idul Fitri Muhammadiyah di Lombok Tengah dipusatkan di tiga lokasi berbeda. Ketiga titik tersebut meliputi halaman Kantor Muhammadiyah setempat, Masjid Darul Falah, dan Masjid Darusalam di Kecamatan Kopang.

Seorang pengurus Muhammadiyah Lombok Tengah yang juga bertindak sebagai Khatib Shalat Idul Fitri, Nasri Anggaran, menjelaskan bahwa persiapan telah dilakukan jauh hari. “Hari ini jamaah Muhammadiyah Lombok Tengah melaksanakan Shalat Idul Fitri di tiga titik, yakni di Praya, Kopang, dan Mantang,” ujar Nasri di Lombok Tengah, Jumat.

Nasri Anggaran menambahkan bahwa perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah tidak mengurangi makna Idul Fitri. Ia menegaskan, “Pemerintah menetapkan 1 Syawal, 21 Maret 2026. Tetapi jauh hari kami telah melakukan sosialisasi, Shalat Idul Fitri digelar 20 Maret 2026.”

Pihaknya telah melakukan sosialisasi agar warga tidak terkejut dengan pelaksanaan Shalat Idul Fitri yang lebih awal. Nasri juga menekankan bahwa Idul Fitri adalah milik semua umat Islam, terlepas dari perbedaan tanggal.

Dalam khotbahnya, Nasri Anggaran mengajak jamaah untuk menguatkan ketakwaan pasca-Ramadhan. Ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi amal saleh dan mempererat silaturahmi.

“Hati harus tetap bersih dan fokus utama menjaga konsistensi amal saleh, memperkokoh keadaban bangsa, peduli lingkungan dan mempererat silaturahmi,” kata Nasri. Ia juga menyerukan untuk tetap istikamah dalam ibadah dan perilaku baik.

“Mari tetap konsisten dalam menebar kebaikan, saling maaf memaafkan atas kesalahan baik diri sendiri maupun orang lain dan bersihkan hati, jangan tanam kebencian,” tambahnya.

Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 21 Maret

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) secara resmi menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Penetapan ini diumumkan setelah Sidang Isbat yang digelar pada Kamis (19/3) di Jakarta.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada hasil rukyatulhilal. “Berdasarkan hisab dan tidak adanya hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Nasaruddin Umar merinci bahwa tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia belum memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Secara hisab, tinggi hilal berada antara 0 54′ 27″ (0,91) hingga 3 07′ 52″ (3,13) dan sudut elongasi antara 4 32′ 40″ (4,54) hingga 6 06′ 11″ (6,10).

Merujuk kriteria MABIMS, awal bulan hijriah ditetapkan jika hilal memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi mencapai 6,4 derajat. Oleh karena itu, hilal belum dapat terlihat dan memenuhi syarat.

Menag Nasaruddin Umar juga menekankan peran Sidang Isbat sebagai fasilitasi negara. “Dalam penentuan awal bulan kamariah, terutama dalam bulan yang ada ibadah umat Islam, dan menyangkut hajat hidup orang banyak, negara memfasilitasi dengan adanya Sidang Isbat ini sebagai bentuk kehadiran ulil amri atau pemerintah,” pungkasnya.

Imbauan Toleransi di Tengah Perbedaan

Mengingat masih ada warga yang berpuasa sesuai ketetapan pemerintah, Nasri mengimbau jamaah untuk menjaga toleransi beragama. “Jangan makan dan minum secara vulgar atau berlebihan di tempat umum, supaya tidak mengganggu umat Islam yang sedang berpuasa pada hari terakhir ini,” pesannya.