Amerika Serikat (AS) akan menutup pusat misinya di Jalur Gaza. Langkah ini diambil setelah pusat misi tersebut dinilai gagal memastikan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, serta aliran bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.

Pusat Misi Gagal dan Penggantinya

Menurut laporan Reuters pada Jumat (2/5/2026), Pusat Koordinasi Sipil-Militer (CMCC) telah menunjukkan ketidakmampuannya dalam mempertahankan gencatan senjata dan menjamin pasokan bantuan kemanusiaan yang krusial. Kegagalan ini memicu keputusan Washington untuk mengganti CMCC.

Para diplomat mengungkapkan kepada Reuters bahwa CMCC akan digantikan oleh misi keamanan internasional yang dipimpin AS. Misi baru ini akan mengawasi situasi di wilayah Palestina tersebut, dengan rencana pengerahan sekitar 40 tentara AS dalam Pasukan Stabilisasi Internasional.

Resolusi PBB dan Rencana Trump

Penutupan ini berkaitan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB yang disetujui pada November 2025. Resolusi yang diajukan AS tersebut mendukung rencana komprehensif Presiden AS Donald Trump untuk menyelesaikan situasi di Gaza. Resolusi itu mendapatkan 13 suara dukungan, sementara Rusia dan China memilih abstain.

Rencana AS yang diusung Trump mencakup beberapa poin penting:

  • Pembentukan pemerintahan internasional sementara untuk Gaza.
  • Pembentukan Dewan Perdamaian yang diketuai oleh Trump sendiri.
  • Mandat untuk pasukan stabilisasi internasional yang akan dikerahkan dalam koordinasi dengan Israel dan Mesir.

Konflik Berlanjut di Tengah Rencana Perdamaian

Meskipun pengumuman transisi ke fase kedua rencana perdamaian Trump untuk Jalur Gaza telah disampaikan, serangan dan gempuran Israel terus berlanjut. Di sisi lain, Hamas tetap menolak untuk melucuti senjatanya, memperumit upaya stabilisasi di wilayah tersebut.

Berita ini bersumber dari Sputnik/RIA Novosti dan telah tayang di Antaranews.com.