KOTA PADANG, 14 April 2026 – Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor kedelai, sebuah kondisi yang menurut Pakar Ilmu Tanah dari Universitas Andalas (Unand), Prof. Dian Fiantis, tidak hanya terkait produksi semata. Ia mengungkapkan bahwa faktor kesuburan tanah, iklim tropis, serta sistem budi daya yang belum optimal menjadi akar masalah utama.

“Persoalan kedelai nasional tidak sekadar terkait produksi, tetapi berakar pada kondisi tanah, iklim tropis, serta sistem budi daya yang belum optimal,” kata Prof Dian Fiantis saat diwawancarai di Kota Padang, Senin.

Kondisi Tanah Masam dan Kurangnya Unsur Hara

Prof. Dian menjelaskan, kondisi tanah tropis di Indonesia umumnya bersifat masam dan miskin bahan organik. Karakteristik ini diperparah dengan tingginya kandungan besi dan aluminium yang dapat mengikat unsur hara penting seperti fosfor. Padahal, fosfor sangat berperan dalam pembentukan energi tanaman untuk proses pengisian biji kedelai. Kekurangan unsur ini berakibat pada hasil kedelai yang tidak optimal, meskipun tanaman secara fisik terlihat tumbuh normal.

Lebih lanjut, kondisi tanah yang masam juga menghambat aktivitas bakteri penambat nitrogen pada akar kedelai. Akibatnya, tanaman kedelai mengalami kekurangan nitrogen, padahal unsur ini esensial untuk pembentukan protein dalam biji.

Produktivitas Rendah Akibat Iklim Tropis

Prof. Dian juga menyoroti rendahnya produktivitas kedelai nasional dibandingkan negara produsen utama lainnya. Saat ini, produksi kedelai Indonesia hanya berkisar 1,5 hingga 1,7 ton per hektare. Angka ini jauh tertinggal dari negara-negara produsen utama dunia yang mampu mencapai lebih dari 3,3 ton kedelai per hektare.

Perbedaan signifikan tersebut, menurutnya, dipengaruhi oleh karakter lingkungan tumbuh. Sebagai negara tropis basah, Indonesia memiliki curah hujan tinggi, kelembapan udara besar, serta radiasi matahari yang kerap terhalang awan. Kondisi ini dinilai kurang ideal, terutama pada fase kritis kedelai, yaitu saat pembungaan dan pengisian biji.

Ia membandingkan dengan kondisi di Brasil dan Amerika Serikat, di mana tanaman kedelai mendapatkan cukup air pada awal pertumbuhan dan kondisi kering saat pengisian biji. Kombinasi ini memungkinkan biji kedelai tumbuh lebih besar dan seragam.

Sebaliknya di Indonesia, fase pengisian biji seringkali berlangsung dalam kondisi lembap atau hujan. Situasi ini menghambat proses fotosintesis dan metabolisme tanaman, yang pada akhirnya menyebabkan biji tidak terisi penuh dan berdampak pada rendahnya kualitas serta kuantitas panen.