PALU, kilatnews.co – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Palu memperpanjang waktu kunjungan bagi warga binaan selama momentum perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah. Kebijakan ini berlaku selama tiga hari berturut-turut, mulai Sabtu, 21 Maret hingga Senin, 23 Maret 2026, guna memberikan kesempatan lebih luas bagi keluarga untuk bersilaturahmi.

Kepala Lapas Kelas IIA Palu, Makmur, menjelaskan bahwa perpanjangan jam kunjungan ini merupakan bentuk perhatian khusus di hari raya. “Layanan khusus ini diberikan selama tiga hari berturut-turut selama Idul Fitri. Perpanjangan jam kunjungan menjadi bentuk perhatian agar warga binaan tetap bisa merasakan kehangatan hari raya, meski dalam keterbatasan,” ujar Makmur pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Perbedaan signifikan terletak pada jam operasional. Jika pada hari biasa pelayanan kunjungan hanya berlangsung hingga pukul 11.30 WITA, selama Idul Fitri ini, pintu lapas dibuka sejak pagi hingga petang hari. Makmur menambahkan, bagi keluarga yang tidak sempat berkunjung dalam tiga hari tersebut, kunjungan tetap dapat dilakukan pada hari-hari berikutnya sesuai jadwal normal.

Suasana Haru dan Kehangatan di Balik Jeruji

Tidak seperti hari biasa yang cenderung sunyi, momen Idul Fitri menghadirkan nuansa hangat yang mengalir di setiap sudut Lapas Palu. Senyum, pelukan, dan tawa perlahan menghapus sekat dingin jeruji, menghadirkan rasa ‘rumah’ bagi para warga binaan yang merindukan keluarga.

Sejak pagi, antrean keluarga sudah terlihat di loket pendaftaran. Mereka rela menunggu demi satu tujuan sederhana: bertemu orang tercinta. Proses pemeriksaan ketat terhadap barang bawaan, terutama makanan rumahan, tidak mengurangi semangat. Di balik tas-tas itu, tersimpan rasa sayang yang ingin disampaikan secara langsung, sesuatu yang tak tergantikan oleh kata-kata.

Waktu kunjungan yang diperpanjang hingga sore hari tahun ini memberi ruang lebih luas. Jika biasanya pertemuan terasa singkat dan tergesa, kini waktu seolah melambat. Obrolan menjadi lebih dalam, tawa terdengar lebih lepas, dan kebersamaan terasa lebih utuh di pelataran dan aula lapas.

Anak-anak duduk di samping ayahnya, istri menyuapi suami, dan orang tua menggenggam tangan anaknya dengan erat. Makanan sederhana yang dibawa dari rumah berubah menjadi hidangan penuh makna, bukan hanya soal rasa, tetapi tentang kebersamaan yang lama dinanti.

Momen ini menjadi pengingat bahwa di balik status sebagai warga binaan, mereka tetap manusia yang memiliki keluarga, rindu, dan harapan. Idul Fitri menjadi jembatan yang menghubungkan kembali ikatan itu, meski hanya untuk beberapa jam. Ketika waktu kunjungan berakhir dan keluarga harus pulang, suasana kembali hening, namun hati terasa lebih ringan dan semangat kembali terisi, sebab hangatnya Idul Fitri dirasakan juga di balik tembok tinggi yang untuk sesaat berubah menjadi ruang penuh cinta.