Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan, kembali menunjukkan potret nyata indahnya toleransi dan kemajemukan beragama. Dikenal sebagai ‘desa pancasila’, desa ini menjadi rumah bagi warga dengan beragam latar belakang kepercayaan, mulai dari Islam, Hindu, hingga Kristen Protestan, yang hidup rukun berdampingan.

Perbedaan keyakinan justru menjadi perekat bagi warga Desa Balun. Nilai gotong royong dan toleransi telah tertanam turun temurun, menciptakan suasana harmonis yang terjaga hingga saat ini. Keunikan desa ini akan kembali terlihat jelas pada Kamis, 19 Maret 2026 mendatang.

Pada tanggal tersebut, umat Hindu akan menjalani perayaan Nyepi, memperingati Tahun Baru Saka, dengan berpuasa selama 24 jam dan mengasingkan diri dalam keheningan. Menariknya, di saat yang bersamaan, umat Muslim di desa tersebut akan bersuka cita menyambut Idul Fitri 1447 Hijriah dengan senandung gema takbiran.

Meski demikian, kondisi ini tidak menjadi persoalan bagi warga Hindu. Wisnu Adi Purnomo, salah satu warga Hindu Desa Balun, menegaskan tingginya toleransi di lingkungan mereka. “Di sini toleransi sangat tinggi. Kami tidak pernah mempermasalahkan ibadah masing-masing. Jika umat Muslim takbiran keliling, silakan, kami yang sedang Nyepi tetap menjalankan niat ibadah kami. Semuanya bisa berjalan beriringan,” jelas Wisnu, Senin (16/3/2026).

Wisnu, yang ditemui saat sedang sibuk membuat ogoh-ogoh, juga membeberkan bahwa kerukunan di Desa Balun melahirkan semangat toleransi yang luar biasa. Bahkan, proses pembuatan ogoh-ogoh yang merupakan bagian dari ritual Nyepi tidak hanya dilakukan oleh umat Hindu, melainkan juga mendapat bantuan dari umat Islam dan Kristen.

“Kami mengerjakan ini bersama-sama. Ada warga Islam dan Kristen yang ikut membantu pengerjaan, terutama pada tahap awal yang membutuhkan banyak tenaga,” tambahnya.

Pawai ogoh-ogoh sendiri dijadwalkan akan berlangsung pada Rabu, 18 Maret 2026, di Alun-alun Desa Balun. Warga Lamongan dan sekitarnya diundang untuk hadir menyaksikan langsung simbol harmoni dan kerukunan umat beragama yang telah menjadi ciri khas desa berjuluk Desa Pancasila ini.