JAKARTA – Fenomena video viral di media sosial, termasuk yang bertajuk “Ibu Tiri vs Anak Tiri”, kembali menjadi sorotan setelah pakar keamanan siber mengingatkan potensi bahaya di baliknya. Konten yang menarik perhatian publik ini kerap dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab sebagai umpan untuk melancarkan serangan phishing, sebuah modus penipuan daring yang bertujuan mencuri data pribadi pengguna.
Modus Operandi Phishing di Balik Konten Viral
Serangan phishing dengan memanfaatkan konten viral bukanlah hal baru, namun modusnya semakin canggih. Para pelaku kejahatan siber biasanya menyebarkan tautan palsu yang seolah-olah mengarahkan pengguna ke video lengkap atau informasi eksklusif terkait konten viral tersebut. Namun, setelah diklik, tautan itu justru membawa korban ke situs web palsu yang dirancang mirip dengan platform media sosial atau situs berita terkemuka.
Di situs palsu inilah, korban akan diminta untuk memasukkan informasi sensitif seperti username, kata sandi, kode OTP (One-Time Password), bahkan PIN perbankan. Tanpa disadari, data tersebut langsung terekam dan jatuh ke tangan penipu. “Masyarakat harus sangat waspada. Jangan mudah tergiur dengan judul bombastis atau ajakan ‘klik di sini untuk melihat selengkapnya’ pada konten viral. Selalu verifikasi sumbernya,” ujar Dr. Ir. Budi Rahardjo, pakar keamanan siber dari Institut Teknologi Bandung, dalam sebuah diskusi daring yang diselenggarakan awal Maret 2026.
Ancaman Nyata Pencurian Data dan Kerugian Finansial
Menurut data terbaru dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) per akhir 2025, serangan phishing menyumbang lebih dari 40% dari total insiden siber yang dilaporkan di Indonesia. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Korban phishing berisiko mengalami kerugian finansial akibat pembobolan rekening bank, penyalahgunaan akun media sosial, hingga pencurian identitas yang dapat digunakan untuk tindak kejahatan lainnya.
Penyebaran tautan phishing ini seringkali memanfaatkan teknik social engineering, yaitu manipulasi psikologis untuk menipu korban agar melakukan tindakan tertentu atau membocorkan informasi rahasia. Konten viral yang memicu rasa penasaran atau emosi menjadi alat yang sangat efektif dalam teknik ini.
Tips Aman Menghindari Jebakan Phishing
Untuk melindungi diri dari ancaman phishing, pakar keamanan siber menyarankan beberapa langkah pencegahan:
- Verifikasi Sumber: Selalu periksa keaslian tautan sebelum mengkliknya. Perhatikan alamat URL, pastikan tidak ada kesalahan penulisan atau karakter aneh.
- Jangan Mudah Percaya: Berhati-hatilah terhadap pesan atau unggahan yang meminta informasi pribadi atau finansial.
- Gunakan Otentikasi Dua Faktor (2FA): Aktifkan fitur 2FA pada semua akun penting Anda untuk lapisan keamanan tambahan.
- Perbarui Perangkat Lunak: Pastikan sistem operasi dan aplikasi Anda selalu diperbarui ke versi terbaru untuk mendapatkan perlindungan keamanan terkini.
- Laporkan: Jika menemukan tautan atau konten mencurigakan, segera laporkan ke platform terkait atau pihak berwenang.
Dengan meningkatnya intensitas serangan siber, literasi digital dan kewaspadaan menjadi kunci utama bagi masyarakat untuk tetap aman di dunia maya, terutama saat berinteraksi dengan konten viral yang berpotensi menjadi jebakan.
