Sebuah situs megalitikum berusia sekitar 1.000 tahun di Desa Dongi-Dongi, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, ditemukan dalam kondisi rusak pada Kamis (5/3/2026). Kerusakan warisan prasejarah yang berada di dalam wilayah Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) ini diduga kuat akibat aktivitas penambangan emas ilegal yang marak di sekitarnya.

Sumber yang dihubungi dari Palu pada Jumat (6/3/2026) menjelaskan bahwa sehari sebelumnya, Rabu (4/3/2026), tim survei masih menemukan megalit tersebut dalam kondisi utuh. Namun, hanya berselang satu hari, tepatnya Kamis pagi sekitar pukul 10.00 WITA, situs itu sudah ditemukan dalam keadaan rusak.

Di sekitar lokasi penemuan megalit, terlihat beberapa unit ekskavator yang beroperasi untuk kegiatan penambangan emas. Keberadaan tambang ilegal ini menjadi sorotan utama terkait penyebab kerusakan.

Situs megalitikum Dongi-Dongi ini merupakan bagian dari kekayaan budaya yang berada di dalam TNLL, sebuah kawasan konservasi yang juga masuk dalam daftar tentatif UNESCO sebagai warisan budaya megalitik Lore Lindu.

Ahli Arkeolog Sulawesi Tengah, Iksam Djorimi, memperkirakan bahwa megalit yang ditemukan di Desa Dongi-Dongi ini berusia sekitar 1.000 tahun. “Perkiraan 1.000 tahun untuk usia megalit itu,” kata Iksam saat dihubungi di Palu pada Jumat (6/3/2026).

Megalit tersebut berbentuk batu berukuran besar dengan pahatan menyerupai wajah manusia, mirip dengan karakteristik batu kalamba yang banyak ditemukan di Lembah Napu.

Secara umum, megalit adalah struktur atau monumen prasejarah yang dibangun menggunakan batu berukuran besar, baik tunggal (monolit) maupun susunan. Perkembangannya dimulai dari zaman Neolitikum hingga Zaman Perunggu. Fungsi megalit bervariasi, mulai dari penanda kubur, lokasi ritual keagamaan, hingga pemujaan leluhur, dengan contoh seperti menhir, dolmen, dan sarkofagus.

Iksam Djorimi menambahkan, penyebaran situs megalit di Sulawesi Tengah dimulai dari Lembah Behoa dan Bada di Kabupaten Poso, kemudian meluas ke arah utara hingga Lembah Palu. Situs-situs megalitikum yang berada di Lembah Behoa dan Bada sendiri diperkirakan berusia lebih tua, sekitar 2.000 tahun.