Matahari siang membakar bumi, namun semangat kebersamaan tak luntur di Gampong Dayah Bubue, Kecamatan Peukan Baro, Pidie, Aceh. Satu per satu perempuan berkerudung dan berkain sarung muncul dari lorong-lorong kecil pinggiran sawah, membawa hidangan dalam wadah panci terbungkus kain atau rantangan bersusun rapi. Setiap wadah berisi nasi dan beragam lauk khas Aceh, mulai dari kuah lemak santan sayur labu, ikan teri pepes, telur sambal lado, hingga kari ikan tuna atau tongkol.
Hidangan-hidangan itu diletakkan di atas rumput pada pelataran bukit kecil di tengah hamparan sawah, segera menebarkan aroma rempah yang menggugah selera. Momen ini adalah bagian dari tradisi religi yang dikenal sebagai khanduri treoen u blang atau kenduri turun ke sawah, sebuah ritual yang dilakukan sebelum para petani memulai membajak lahan.
Memohon Berkah dan Perlindungan dari Hama
Teungku Jhuni Wahab, tokoh agama dan tetua adat Kemukiman Lampoih Saka, menjelaskan makna di balik tradisi ini. “Ini kenduri treoen u blang (kenduri turun ke sawah) sebelum mengawali membajak lahan. Dengan mengharap rida Allah, sebagai hamba tiada daya lagi tidak berkuasa, di sini kami berdoa semoga mendapat rahmat, nikmat dan tercurahkan rizki yang halal, sehat lagi berkah. Semoga benih padi yang kami tanami nanti luput dari serangan hama dan terhindar dari penyakit, sampai memperoleh hasil panen makmur melimpah serta sampai nisaf,” ujarnya kepada Media Indonesia, Senin (20/4/2026).
Sekitar pukul 13.15 WIB, usai salat zuhur, puluhan lelaki berkain sarung telah berkumpul, duduk lesehan di atas rumput tebal. Di bawah naungan dua pohon besar jenis hagu dan keupula yang rindang, mereka berzikir, samadiah, tahlil, serta berdoa bersama. Anak-anak berseragam sekolah pun turut menengadahkan tangan, khusyuk memohon keberkahan.
Doa yang dipimpin Teungku Jhuni Wahab juga menyertakan permohonan perlindungan dari fenomena El Nino yang mengancam. “Ya ALLAH, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya ALLAH, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan,” demikian seruan doa yang mengutip Hadis Riwayat Imam Bukhari.
Simbol Persatuan dan Musyawarah Petani
Setelah rangkaian doa berakhir, hidangan kenduri dibuka. Nasi kulah (nasi terbungkus daun pisang) dan berbagai lauk pauk dibagi rata kepada semua yang hadir, menciptakan suasana kebersamaan layaknya keluarga besar. Lebih dari sekadar makan bersama, tradisi ini mengandung pesan moral dan nilai sosial yang mendalam.
Di kesempatan inilah, keujruen blang (tokoh adat petani) menyampaikan titah penting. Mulai dari seruan gotong royong membersihkan saluran irigasi, jadwal membajak lahan, hingga penjelasan kondisi musim dan ancaman El Nino. “Sekarang kita berhadapan dengan musim kemarau panjang (fenomena El Nino). Mulai besok sudah harus mengaliri air mengisi ke semua petak lahan. Tiga hari ke depan traktor bajak sawah mulai masuk untuk membajak lahan dan mengolah tanah. Setelah itu segera menabur benih, menyemai bibit. Jangan sampai terlambat masa tanam. Nanti bisa berhadapan dengan musim kekeringan dan siklus hama penyakit,” tegas Teungku Jhuni Wahab.
Bukhari Thahir, Tokoh Masyarakat Kecamatan Peukan Baro, menegaskan bahwa khanduri blang merupakan kearifan lokal yang berfungsi sebagai media pemersatu petani. “khanduri blang merupakan kearifan lokal sebagai media menyatu kata petani. Lalu diskusi terbuka menyampaikan berbagai hal terkait jadwal turun ke sawah. Di situ keujruen blang (tokoh adat petani sawah) bisa mengarahkan warga untuk menentukan varietas benih padi yang sesuai untuk bercocok tanam pada musim (musim tanam kedua) yang dihadapi,” jelasnya.
Makam Ulama sebagai Pusat Tradisi
Pelaksanaan khanduri blang seringkali dilakukan di lokasi yang memiliki nilai sejarah religi atau makam ulama. “Ada yang digelar di masjid tua (masjid kuno) bersejarah, banyak juga pada lokasi makam ulama yang dianggap keramat. Bukan mengagungkan lokasi itu, tetapi memohon doa melalui orang tercintanya atau pada tempat yang sejak dulu masjid sebagai tempat sujud,” papar Bukhari Thahir.
Di lokasi gundukan bukit kecil di hamparan sawah Gampong Dayah Bubue, yang dikenal sebagai Cot Beuringen, terdapat tiga makam syuhada. Salah satunya diyakini sebagai pusara ulama yang syahid sekitar abad ke-17 atau ke-18 Masehi. Makam ini diapit oleh pohon kupula dan hagu, dengan nisan berkaligrafi Arab yang mengindikasikan usianya.
Muhammad Amin (60), warga Kemukiman Lampoih Saka, menuturkan, “Sesuai penuturan orang-orang tua di sini dulu, ini kuburan Teungku keramat. Tapi tidak tahu siapa nama aslinya. Kami menyebut kuburan Teungku (makam Ulama). Beliau syahid dan jasadnya terpotong tiga oleh kekejaman musuh.” Versi lain menyebutkan para syuhada gugur saat menghadang tentara kolonial Belanda di jalur rel kereta api lama Medan-Banda Aceh.
Warisan Budaya Ratusan Tahun
Budayawan dari Universitas Syiah Kuala (USK), M Adli Abdullah, mengungkapkan bahwa tradisi khanduri treoen u blang telah berlangsung sejak ratusan tahun silam, diperkirakan sekitar abad ke-15 Masehi. Menurutnya, tradisi ini adalah wujud kedekatan masyarakat Aceh dengan ajaran Islam.
“Melalui tradisi religi itu terlaksana doa bersama, semangat gotong-royong, kesempatan bermusyawarah. Lalu sebagai media bersilaturrahmi dan membangun kekompakan serta kepedulian sosial sesama,” kata Adli Abdullah. Ia menambahkan, “Kenduri blang atau kenduri turun ke sawah bermakna kedekatan masyarakat Aceh dengan ajaran Islam yang di dalamnya terbangun rasa sosial dan kebersamaan. Doa bersama yang dipimpin oleh seorang Teungku menunjukkan bahwa untuk mendapat hasil panen itu perlu memohon melalui doa agar mendapat anugerah Allah.”
Melestarikan tradisi religi seperti khanduri blang adalah menjaga identitas peradaban bangsa dan kearifan lokal yang terbukti efektif secara turun temurun dalam kehidupan masyarakat Aceh.
