Ketegangan geopolitik global akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran tidak mampu meruntuhkan dominasi Bitcoin (BTC). Sempat terseret sentimen negatif hingga anjlok ke level US$66.000, aset kripto utama ini dengan cepat bangkit dan kini kembali stabil di kisaran US$70.000 hingga US$72.000.
Fenomena ketahanan Bitcoin ini menjadi sorotan Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur. Ia memaparkan bahwa pergerakan harga yang cepat pulih ini membuktikan kuatnya fondasi permintaan di pasar kripto, di mana kepanikan sesaat justru dimanfaatkan investor untuk melakukan aksi beli di harga rendah (buy the dip).
Minat Beli Investor Tetap Aktif
Fyqieh menjelaskan bahwa pasar spot Bitcoin menunjukkan aktivitas beli yang sangat tinggi. “Pergerakan Bitcoin yang cepat pulih menunjukkan minat beli investor masih sangat aktif, khususnya di pasar spot. Koreksi ke area US$66.000 hingga US$67.000 justru dimanfaatkan sebagian pelaku pasar untuk melakukan akumulasi aset,” ujar Fyqieh, Jumat (6/3/2026).
Sebelumnya, tekanan terhadap aset kripto sempat terjadi menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia yang menyentuh US$85 per barel. Angka tersebut merupakan rekor harga tertinggi sejak awal 2024. Lonjakan energi yang dipicu krisis Timur Tengah ini sempat memantik kekhawatiran atas stabilitas ekonomi global, namun Bitcoin terbukti merespons krisis ini dengan jauh lebih stabil dibandingkan instrumen aset berisiko lainnya.
Dua Katalis Utama Penopang Harga
Fyqieh menambahkan, ketahanan harga Bitcoin tidak hanya ditopang oleh investor ritel, tetapi juga derasnya modal dari raksasa institusi keuangan serta perubahan strategi penyimpanan aset. Berdasarkan data pasar terbaru, terdapat dua katalis utama penopang harga BTC saat ini:
- Aliran Dana ETF Bitcoin: Pasar mencatat aliran dana ratusan juta dolar AS masuk ke produk investasi Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin dalam beberapa hari terakhir. “Hal ini menjaga likuiditas pasar sekaligus menjadi tameng pelindung saat terjadi tekanan harga jangka pendek,” jelas Fyqieh.
- Tren Netflow Negatif: Data on-chain menunjukkan tren netflow negatif selama tujuh hari berturut-turut. Di platform Binance, tercatat sekitar 13.500 BTC telah ditarik keluar sejak akhir Februari lalu, dengan penarikan harian sempat menyentuh angka 3.800 BTC. “Ketika netflow di bursa berubah menjadi negatif, itu mengindikasikan investor tidak berniat menjual koinnya dalam waktu dekat. Mereka memindahkan aset ke wallet pribadi sebagai bagian dari strategi penyimpanan jangka panjang,” terang Fyqieh.
Level Krusial US$70.000
Di tengah dinamika makroekonomi saat ini, pergerakan Bitcoin tengah berada dalam fase konsolidasi (range-bound). Secara teknikal, Fyqieh menyoroti US$70.000 sebagai level support psikologis yang sangat krusial untuk dipertahankan.
“Selama Bitcoin mampu bertahan di atas area US$70.000, peluang untuk melanjutkan pergerakan menuju kisaran US$72.000 hingga US$74.000 masih terbuka lebar. Level ini menjadi kunci untuk menjaga momentum pasar,” pungkasnya.
Sumber Gambar: https://jatimnow.com/baca-82788-analis-ungkap-penyebab-bitcoin-tahan-banting-di-tengah-konflik-asisrael-vs-iran 