PEKANBARU – Fara, mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau yang menjadi korban pembacokan pada 26 Februari 2026, kini menunjukkan perkembangan kesehatan yang sangat signifikan pascaoperasi. Setelah menjalani perawatan intensif, Fara dilaporkan sudah mulai bisa melakukan beberapa aktivitas fisik secara mandiri di rumah sakit.
Insiden tragis yang menimpa Fara terjadi di area Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau. Pelaku pembacokan diidentifikasi sebagai Raihan, rekan sesama mahasiswa, dengan motif asmara dan dendam pribadi yang berujung pada penggunaan senjata tajam jenis parang.
Kemajuan Fisik dan Kemandirian Fara
Ibunda Fara menyampaikan kabar gembira mengenai kondisi putrinya. “Alhamdulillah dia sudah bisa duduk, walaupun masih ada rasa pusing. Kemudian alhamdulillah hari ini dia sudah mulai bisa berdiri,” ungkap sang ibu, menggambarkan kemajuan yang dicapai Fara.
Kemajuan fisik Fara tidak hanya terbatas pada kemampuan duduk dan berdiri. Ia juga mulai menunjukkan kemandirian dalam melakukan keperluan pribadi harian. Fara kini tidak lagi ingin bergantung sepenuhnya pada peralatan medis atau bantuan pispot untuk buang air kecil, sebuah sinyal positif bagi keluarga bahwa fungsi motoriknya berangsur normal.
“Dia sudah tidak mau lagi di tempat tidur buang air kecilnya, dia mau pergi sendiri ke kamar mandi. Semoga ini ada dampak baiknya buat anak saya sendiri,” jelas ibunda Fara dengan nada penuh harap.
Perbaikan Pola Makan dan Tantangan Mual
Pada masa awal pemulihan, Fara hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan bertekstur lunak seperti bubur. Pembatasan ini bertujuan mengurangi gerakan pada bagian kepala dan rahang yang dapat memicu rasa sakit luar biasa, menjadi bagian krusial dalam prosedur medis.
“Memang dari pertama itu saya minta makanannya bubur karena nanti gerakan dari kepalanya sendiri nanti dia merasa sakit,” tutur sang ibu.
Saat ini, nafsu makan Fara dilaporkan sudah membaik. Namun, ia masih sering merasakan mual jika mengonsumsi makanan dalam porsi terlalu banyak. “Cuma kalau makan banyak dia merasa mual, mungkin sudah dulu saya stop. Alhamdulillah hari ini dia sudah makan normal seperti biasa,” tambah ibunda Fara, yang terus mengawasi asupan nutrisi putrinya dengan hati-hati.
Tindakan Hukum dan Sorotan Keamanan Kampus
Di sisi lain, pelaku pembacokan, Raihan, telah diamankan oleh pihak kepolisian dan akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum. Raihan dilaporkan menyesali tindakannya dan merasa sedih karena orang tuanya harus menanggung malu.
Kasus ini memicu sorotan tajam terhadap sistem keamanan di lingkungan kampus UIN Suska Riau. Kejadian pembacokan di area fakultas tersebut mendorong evaluasi mendalam terhadap prosedur pengamanan bagi mahasiswa. Pihak universitas diharapkan segera meningkatkan pengawasan guna mencegah insiden serupa terulang.
Motif dendam dan masalah asmara yang melatarbelakangi kasus ini juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan mental di kalangan mahasiswa. Manajemen emosi dinilai krusial agar konflik pribadi tidak berujung pada tindakan kriminal yang merugikan banyak pihak dan merusak masa depan.
Dukungan moral dari sesama mahasiswa terus mengalir bagi kesembuhan Fara. Pemulihan Fara diperkirakan masih membutuhkan waktu yang cukup lama, terutama untuk memulihkan kondisi psikisnya yang mengalami trauma berat. Keluarga berharap proses hukum terhadap pelaku berjalan dengan adil, dengan fokus utama memastikan Fara bisa kembali sehat sepenuhnya dan melanjutkan studinya.
sumber gambar: Tiktok 