Banda Aceh, 31 Maret 2026 – Minggu (29/3) subuh, hawa dingin masih menyelimuti jagat saat jarum jam menunjukkan pukul 05.19 WIB. Suara azan sayup-sayup terdengar, menyeru insan untuk bersujud. Setelah menunaikan salat Subuh, Farida Hanum, seorang mahasiswi semester IV Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (F-KIP) Universitas Syiah Kuala (USK), bergegas mempersiapkan barang bawaannya.
Aneka kebutuhan harian dan perlengkapan kuliah sudah tersimpan rapi dalam tas punggung dan tas laptopnya sejak malam sebelumnya. Farida ingin berangkat lebih awal untuk kembali ke kampus di Darussalam, Banda Aceh. Setelah dua pekan menikmati libur Idulfitri 1447 H/2026 M bersama keluarga di kampung halaman, ia siap kembali bergelut dengan bangku kuliah pada Senin (30/3) pagi.
“Rindu di rumah menemani orangtua dan canda ria sesama saudara telah terobati. Nikmatnya berbuka puasa, asyiknya tarawih bersama dan enaknya makan sahur menu masakan ibu juga telah lega sekilas waktu. Kini kami anak mereka harus segera terbang tinggi untuk kembali ke kampus demi menggapai asa, meraih cita dan menakhodai bahtera demi hari esok yang lebih indah,” ujar Farida Hanum, alumni SMA Sukma Bangsa Pidie, sembari memeriksa oli sepeda motor Honda Scoopy miliknya menjelang keberangkatan.
Puluhan Ribu Mahasiswa Padati Jalur Arus Balik
Farida adalah satu dari sekitar 50 ribu mahasiswa yang menimba ilmu di berbagai universitas negeri dan kampus swasta di Banda Aceh, Ibu Kota Provinsi Aceh. Mereka tersebar di Universitas Syiah Kuala (USK), UIN Ar-raniry, Poltekkes, Universitas Muhammadiah, Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Universitas Abulyatama, dan Universitas Iskandar Muda (UNIDA).
Dua pekan lalu, pada akhir Ramadan, puluhan ribu mahasiswa ini ramai-ramai mudik ke kampung halaman mereka, atau yang dalam bahasa Aceh disebut Woe U Gampoeng. Mereka pulang untuk melepaskan rindu keluarga ke berbagai kabupaten/kota dan pedalaman Aceh, bahkan sebagian mudik ke luar daerah atau provinsi lain seperti Sumatra, Pulau Jawa, Papua, hingga luar negeri.
Menurut penelusuran Media Indonesia, puncak arus balik mahasiswa ke Banda Aceh terjadi pada Minggu (29/3) akhir pekan hingga Senin (30/3) menjelang pagi. Target mereka adalah tiba di ruang kuliah pada pukul 08.00 WIB untuk bersua kembali dan halalbihalal bersama dosen serta teman-teman.
Akibatnya, seluruh gerbang jalur memasuki Banda Aceh dan Aceh Besar dipadati oleh generasi muda ini. Kepadatan terlihat di jalur darat Nasional Banda Aceh-Medan, jalur Banda Aceh-Barat Selatan, jalur laut Banda Aceh-Sabang, hingga penyeberangan dari Pulau Simeulue dan Pulau Banyak. Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar, juga mengalami kepadatan serupa.
“Saya berangkat Senin pagi untuk menghindari cuaca ekstrem, yakni sering terik matahari waktu siang dan turun hujan di kala sore. Insya Allah sekitar pukul 01.00 WIB sudah tiba di tempat kos kawasan Lingke, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh,” tutur mahasiswi Jurusan Bahasa Indonesia asal Garot, Kabupaten Pidie itu.
Peringatan Wakil Rektor USK: Utamakan Kewaspadaan dan Fokus Studi
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan Universitas Syiah Kuala, Profesor Mustanir, melalui Media Indonesia pada Minggu (29/3), mengingatkan para pemudik arus balik, khususnya mahasiswa, untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari hal-hal buruk selama perjalanan. Ia menekankan agar mahasiswa tidak terburu-buru waktu yang dapat mengundang kecelakaan lalu lintas.
“Tingkatkan kewaspadaan dalam perjalanan. Ekstra hati-hati ketika berada di terminal, bandara dan pelabuhan. Terutama untuk mahasiswi. Jika melihat atau mengalami perilaku kekerasan dan merasa tidak nyaman, jangan ragu melapor ke satgas hotline 0823 2000 293,” tutur Profesor Mustanir, yang juga memiliki pengalaman pahit semasa remaja di kampung halaman Indrapuri, kawasan pedalaman Aceh Besar.
Kepada sekitar 35 ribu mahasiswa USK yang kembali dari kampung halaman, Profesor Mustanir berharap agar mereka bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. “Tanggalkan semua kemalasan, selami ilmu pengetahuan selagi masih muda. Lalu tidak membiarkan kesempatan belajar akan berlalu ditelan zaman, selagi orangtua masih ada. Tiada masa paling indah, selain kala ayah bunda menanggung putra-putrinya untuk menuntut ilmu pengetahuan,” pesannya.
Ia menambahkan, “Ingat, keberhasilanmu itu adalah harapan orangtua dan kebahagiaan keluarga semua. Namun kegagalan bermodal kelalaian, adalah penyesalan yang tiada tara.” Profesor Mustanir sendiri merupakan lulusan Doktor Bidang Kimia Organik dari Kyushu University Jepang.
