Bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor semakin mempercepat tekanan terhadap sektor kopi di dataran tinggi Aceh. Kondisi ini berpotensi menurunkan produktivitas kopi Gayo yang menjadi komoditas unggulan wilayah tersebut.

Peneliti Pusat Riset Kopi dan Kakao Universitas Syiah Kuala (USK), Abu Bakar, menjelaskan bahwa sektor kopi sebelumnya sudah terdampak perubahan iklim. “Kerusakan lahan akibat longsor bisa menghilangkan lapisan tanah atas yang penting bagi tanaman kopi. Ini berdampak langsung pada produktivitas,” kata Abu Bakar pada Rabu (6/5/2026).

Ia memaparkan, banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada akhir 2025 turut berdampak pada kawasan dataran tinggi Gayo. Wilayah ini mencakup Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, yang dikenal sebagai sentra produksi kopi arabika.

Selain kehilangan tanaman, petani juga menghadapi risiko penurunan kualitas hasil panen. Tanaman yang terdampak air berlebih cenderung mengalami stres, sehingga memengaruhi pembentukan buah kopi.

Abu Bakar menambahkan, perubahan pola curah hujan memperburuk kondisi tersebut. Data jangka panjang menunjukkan peningkatan curah hujan tahunan, namun distribusinya tidak merata. Hujan intens dalam waktu singkat meningkatkan potensi longsor di wilayah perbukitan tempat kopi ditanam.

Kondisi ini juga memicu peningkatan serangan hama dan penyakit, seperti karat daun dan penggerek buah, yang semakin menekan hasil produksi kopi.

Seorang petani kopi di Desa Wih Delung, Kecamatan Bale Redelong, Kabupaten Bener Meriah, Zubaidah (59), mengaku sebagian kebun kopinya rusak akibat banjir disertai material longsor. “Pagi setelah kejadian, kebun sudah tertutup tanah dan banyak tanaman rusak,” ungkap Zubaidah.

Dari total 20 rante kebun kopi miliknya, sekitar delapan rante mengalami kerusakan parah. Selain merusak tanaman, material longsor juga menutup permukaan tanah dan berpotensi mengganggu kesuburan lahan, sehingga membutuhkan waktu lama untuk pemulihan.

Zubaidah juga menuturkan, akses jalan yang sempat terputus selama beberapa hari menghambat distribusi hasil kebun serta pasokan kebutuhan petani.

Saat ini, sejumlah petani mulai melakukan upaya pemulihan dengan membersihkan lahan yang tertimbun material dan menanam kembali tanaman yang rusak. Proses ini membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit.

Petani juga mulai menerapkan langkah adaptasi, seperti penggunaan tanaman naungan dan sistem tumpang sari. Upaya ini bertujuan untuk menjaga kelembapan tanah dan menekan risiko kerusakan lahan di masa mendatang.

Abu Bakar menilai, dengan kopi sebagai penopang ekonomi utama di dataran tinggi Gayo, dampak bencana hidrometeorologi berpotensi memengaruhi produksi regional dalam jangka menengah jika pemulihan tidak dilakukan secara cepat.