Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menyerukan penguatan solidaritas sosial dan pengendalian diri di momen Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Seruan tersebut disampaikan Iqbal di hadapan ribuan jamaah salat Idul Fitri di Lapangan Bumi Gora, Kantor Gubernur NTB, Mataram, pada Sabtu, 22 Maret 2026. Ia menekankan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama harus terus dihidupkan, tidak hanya selama Ramadan.

Seruan Solidaritas dan Pengendalian Diri

Dalam khotbahnya, Iqbal menggambarkan Ramadan sebagai bulan penuh berkah yang mendekatkan umat kepada Allah SWT dan sesama. “Di Ramadhan yang mulia, setiap detik terasa lebih bernilai, setiap doa yang dipanjatkan terasa lebih dekat kepada langit, dan setiap kebaikan berlipat ganda pahalanya,” ujar Iqbal. Ia menambahkan, suasana sahur yang hangat, lantunan ayat suci Al-Quran, dan kebersamaan saat berbuka puasa menciptakan kedamaian hati.

Menurut Iqbal, Ramadan adalah madrasah kehidupan yang menumbuhkan kesabaran, memperhalus akhlak, serta menumbuhkan empati. Bulan suci ini juga mengajarkan bahwa keberkahan hidup bukan hanya tentang apa yang dikumpulkan, melainkan apa yang dibagikan. “Ramadhan mendidik kita agar menjadi manusia yang tidak hanya saleh secara pribadi. Tetapi juga saleh secara sosial,” tegasnya.

Tantangan Kemiskinan dan Pembangunan Inklusif

Gubernur Iqbal kemudian menyoroti isu kemiskinan yang masih menjadi tantangan di NTB. Ia menyebut kemiskinan sebagai akar dari semua masalah sosial, sehingga pengentasannya menjadi tugas kemanusiaan dan amanah moral. “Tidak mungkin kita berbicara Tentang kemajuan, pariwisata kelas dunia, ekonomi yang tumbuh kuat, atau generasi emas NTB, jika masih ada saudara-saudara kita yang tertinggal di belakang,” ucapnya.

Iqbal menegaskan bahwa pembangunan harus bersifat inklusif, mengangkat yang lemah, memberdayakan yang tertinggal, dan membuka harapan bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan. Ia melihat potensi besar NTB, mulai dari tanah subur, laut luas, budaya kuat, hingga semangat gotong royong masyarakat.

“Namun potensi besar ini hanya akan menjadi kekuatan jika dikelola bersama dengan semangat kebersamaan dan keadilan sosial. Di sinilah nilai-nilai Ramadhan dan Idul Fitri menemukan relevansi-nya,” jelas Iqbal. Ia menambahkan, zakat, infak, dan sedekah adalah instrumen sosial yang menggerakkan solidaritas umat dan mengurangi kesenjangan.

Makna Kemenangan Sejati Idul Fitri

Iqbal mengajak masyarakat untuk memaknai Idul Fitri sebagai kemenangan sejati. “Kemenangan sejati bukan hanya karena kita telah menyelesaikan ibadah puasa. Kemenangan sejati adalah ketika kita menjadi lebih baik, ketika hati kita menjadi lebih peduli, tangan kita lebih ringan untuk berbagi, dan langkah kita lebih kuat untuk membantu sesama,” katanya.

Ia menutup pidatonya dengan ajakan untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum pembentukan karakter, penguatan persaudaraan, solidaritas sosial, dan komitmen membangun NTB yang makmur dan mendunia. “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin,” pungkas Iqbal, mewakili Pemerintah Provinsi NTB, pribadi, dan keluarga.