Yohannes Bastian Soga (10), seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya pada Kamis, 29 Januari 2026. Tragisnya, tindakan nekat bocah tersebut diduga kuat dipicu oleh tekanan biaya pendidikan dan keinginan untuk tidak membebani ibunya yang berjuang di tengah himpitan ekonomi.
Peristiwa memilukan ini memicu reaksi keras dari tokoh pemuda NTT di Jakarta, William Yani Wea. Ketua Umum Serikat Pekerja Informal Migran dan Pekerja Profesional Indonesia (Serikat Pekerja IMPPI) itu menyebut kematian Yohannes bukan sekadar kasus bunuh diri biasa, melainkan sebuah tamparan keras bagi wajah kemanusiaan Indonesia.
Sorotan William Yani Wea atas Tragedi Kemanusiaan
William Yani Wea, yang akrab disapa Willy, mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam. “Ini jelas sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. Anak sekecil itu hanya ingin punya buku dan pena untuk sekolah. Namun, kemiskinan merampas impiannya hingga ia merasa mati adalah jalan keluar agar tidak menyusahkan ibunya,” ujar putra mendiang tokoh nasional Jacob Nua Wea ini dengan nada getir, Sabtu (7/2/2026).
Willy mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera melakukan evaluasi total terhadap sistem pendidikan dan jaring pengaman sosial. Ia menyoroti kontradiksi antara ambisi pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan realitas biaya pendidikan di lapangan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, Yohannes merasa tertekan setelah pihak sekolah menagih biaya sebesar Rp1,2 juta. Padahal, ia bersekolah di sekolah negeri yang seharusnya bebas dari pungutan biaya.
“Pemerintah punya kewajiban menyelenggarakan pendidikan gratis dan berkualitas. Jangan sampai program mulia seperti Makan Bergizi Gratis tercoreng oleh praktik pungutan liar di sekolah yang justru mematikan harapan anak-anak kita,” tegas Willy.
Kisah Pilu Yohannes dan Pesan Terakhir
Keseharian Yohannes memang jauh dari kata cukup. Ayahnya meninggal dunia sejak ia masih dalam kandungan. Ia tinggal bersama neneknya yang sudah berusia 80 tahun di sebuah pondokan sederhana, sementara ibunya harus banting tulang menafkahi lima orang anak di desa tetangga.
Beberapa saat sebelum kejadian, para tetangga sempat melihat Yohannes duduk termenung sendirian di bale-bale. Kemurungan itu rupanya menjadi tanda perpisahan terakhir. Ia meninggalkan selembar surat pendek untuk sang ibu yang berbunyi, “Mama, aku pergi dulu. Mama relakan aku pergi. Jangan menangis ya Mama. Mama tidak perlu menangis dan mencari atau merindukanku. Selamat tinggal Mama.”
Bagi Willy, kasus Yohannes harus menjadi titik balik bagi pengelola pendidikan di NTT dan Indonesia secara umum. Ia berharap tidak ada lagi nyawa yang hilang hanya karena urusan buku, pena, atau iuran sekolah yang tak terbeli.
“Kematian Yohannes adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan biarkan kemiskinan terus-menerus menelan masa depan anak-anak kita,” pungkas tokoh asal Nagekeo tersebut.
