Fenomena konten viral yang mengeksploitasi drama keluarga kembali menjadi sorotan publik dengan kemunculan video berjudul “Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2″. Video ini, yang diduga kuat sebagai upaya clickbait, telah menyebar luas di berbagai platform media sosial, memicu kekhawatiran akan etika bermedia dan dampak psikologisnya.
Setelah sukses dengan “Part 1” yang juga menarik perhatian, kelanjutan cerita ini justru menuai kritik tajam. Banyak warganet yang merasa judul dan cuplikan video tidak sesuai dengan isi sebenarnya, mengindikasikan adanya manipulasi untuk menarik jumlah penonton dan interaksi. Konten semacam ini seringkali dirancang untuk memancing rasa penasaran, namun minim substansi atau bahkan menyesatkan.
Pakar Soroti Dampak Negatif Konten Eksploitatif
Psikolog anak dan keluarga, Dr. Retno Kustiyah, mengingatkan bahaya di balik tren konten drama keluarga yang sensasional. “Konten yang mengeksploitasi konflik keluarga, apalagi melibatkan anak, sangat berbahaya bagi perkembangan mental mereka dan membentuk persepsi yang salah di masyarakat,” ujar Dr. Retno pada Selasa, 14 April 2026. Ia menambahkan bahwa anak-anak yang terlibat dalam konten semacam itu berisiko mengalami tekanan emosional dan kesulitan membedakan antara realitas dan fiksi.
Lebih lanjut, Dr. Retno menekankan pentingnya peran orang tua dan pembuat konten untuk tidak menjadikan isu sensitif keluarga sebagai komoditas hiburan. “Mencari popularitas atau keuntungan finansial dengan mengorbankan privasi dan kesejahteraan emosional anggota keluarga, terutama anak, adalah tindakan yang tidak etis,” tegasnya.
Imbauan Waspada dan Literasi Digital
Penyebaran konten clickbait semacam ini juga menyoroti urgensi literasi digital di kalangan masyarakat. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) secara berkala mengimbau masyarakat untuk lebih kritis dalam menyaring informasi dan konten yang beredar di internet. Pengguna dianjurkan untuk tidak mudah terpancing judul-judul provokatif dan selalu memverifikasi kebenaran isi konten.
Platform media sosial sendiri memiliki kebijakan komunitas yang melarang konten menyesatkan atau eksploitatif. Namun, tantangan dalam penegakan kebijakan ini masih besar mengingat volume konten yang diunggah setiap hari. Oleh karena itu, kesadaran kolektif dari pengguna dan pembuat konten menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
Publik diharapkan dapat membedakan antara konten informatif dan hiburan yang sehat dengan konten yang hanya bertujuan meraup keuntungan semata melalui sensasi. Waspada terhadap “Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2” dan konten sejenis adalah langkah awal untuk melindungi diri dari informasi yang tidak akurat dan dampak negatifnya.
