Di tengah hiruk pikuk Kota Pahlawan, sebuah kedai sederhana di Jalan Genteng Durasim nomor 29, Genteng, Surabaya, tetap kokoh berdiri, memancarkan aroma khas yang menggoda selera. Rujak Cingur Genteng Durasim, nama yang tak asing bagi para pecinta kuliner, telah memanjakan lidah selama 87 tahun, menjadi saksi bisu perkembangan kota sekaligus magnet bagi berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat publik dan selebriti.
Maka tak heran jika setiap sudut ruangan berukuran sekitar 25 meter persegi yang disediakan bagi pelanggan, dipenuhi foto sejumlah selebriti hingga pejabat. Mereka adalah bukti nyata daya tarik kuliner legendaris khas Kota Pahlawan ini.
Proses Cepat, Rasa Memikat
Sebelum disajikan, pelanggan akan terlebih dahulu ditanya tingkat kepedasan rujak cingur yang ingin mereka santap. Setelah itu, pelayan dengan cekatan akan langsung menyiapkan pesanan. Selang sekitar lima menit, pesanan tersebut sudah tersaji dan siap dinikmati.
“Kita bisa cepat proses karena memang sekali membuat bumbunya bisa untuk 30 porsi,” kata pemilik kedai, Rubiati (72), saat ditemui beberapa waktu lalu.
Satu porsi Rujak Cingur Genteng Durasim terdiri dari potongan cingur (hidung sapi) rebus, timun, nanas, mangga, tahu, tempe, lontong, serta rebusan mie kuning, kangkung, dan kecambah. Semua bahan ini bercampur menjadi satu, disiram bumbu kecokelatan berbahan dasar kacang goreng yang dicampur gula merah, pisang batu, petis, dan air asam.
Kenyalnya cingur, ditambah segarnya buah dan sayur, serta lembutnya lontong berpadu aroma khas dari bumbu petis melahirkan sensasi rasa yang unik. Gurihnya tahu tempe, serta manis dan pedasnya bumbu kacang, seolah menyempurnakan setiap suapan dari rujak cingur yang tersaji. Kedai ini menawarkan dua kategori, yakni rujak cingur biasa seharga Rp 35 ribu per porsi, dan rujak cingur spesial yang dibanderol Rp 50 ribu.
Dedikasi Generasi Ketiga Menjaga Resep Asli
Rubiati adalah generasi ketiga yang meneruskan kedai Rujak Cingur Genteng Durasim. Ibu dua anak tersebut mengaku tidak pernah mengubah resep yang diwariskan leluhurnya. Dedikasinya terlihat dari puluhan tahun ia mengelola kedai ini.
“Saya mulai mengelola ini saat usia masih 22 tahun. Sekarang sudah 72 tahun. Berarti sudah 50-an tahun saya di sini,” ujarnya.
Di antara kelebihan Rujak Cingur Genteng Durasim adalah penggunaan cingur asli, tidak dicampur kikil. Kemudian, bumbu kacang yang lebih kental membuat setiap porsi yang disajikan terasa lebih sedap. Rujak Cingur Genteng Durasim juga membuat petis sendiri yang resepnya diwariskan turun temurun. Petis buatan sendiri ini kemudian dicampur dengan bumbu petis dari salah satu produsen di Kabupaten Sidoarjo, yang telah menjadi langganan sejak kedai tersebut berdiri.
“Kan itu petisnya campuran dari petis ikan dan udang. Kita punya takarannya sendiri biar lebih enak,” ucap Rubiati.
Memasuki usia 72 tahun, Rubiati sadar aktivitasnya mulai terbatas. Maka dari itu, ia mulai mempercayakan pengelolaan Rujak Cingur Genteng Durasim kepada cucunya. Sementara ia lebih banyak mengawasi dan mengarahkan, sambil sesekali bercengkerama dengan para pelanggannya. “Apalagi saya kan sempat sakit, opname juga,” kata dia.
