PSIM Yogyakarta memang telah memastikan diri bertahan di Super League musim depan. Namun, pelatih Jean-Paul van Gastel belum bisa bernapas lega sepenuhnya. Ia membongkar sederet kelemahan yang masih menghantui Laskar Mataram sepanjang musim ini.
Kemenangan 2-0 atas Malut United di Stadion Sultan Agung, Bantul, pada 10 Mei 2025 menjadi penentu. Hasil tersebut mengakhiri paceklik kemenangan PSIM dalam delapan laga terakhir dan mengamankan posisi mereka dari ancaman degradasi. Kini, PSIM mengoleksi 42 poin dan duduk di peringkat ke-11 klasemen sementara.
Meski demikian, Van Gastel menegaskan bahwa PSIM masih menyimpan banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Sorotan utama tertuju pada buruknya penyelesaian akhir, yang dinilai menjadi akar masalah inkonsistensi tim sepanjang musim.
“Final third, kami terus kembali ke sana. Setelah musim ini selesai kami harus mengevaluasi ke arah mana tim ini akan dibawa,” ungkap Van Gastel, Kamis (14/5/2026).
Masalah lini depan memang menjadi luka lama bagi PSIM. Memasuki putaran kedua kompetisi, performa Laskar Mataram merosot tajam. Dari 15 pertandingan, mereka hanya sanggup meraih dua kemenangan, enam hasil imbang, dan menelan tujuh kekalahan.
Statistik tersebut membuat tim berjuluk Naga Jawa tersingkir dari persaingan papan atas. Situasi ini sempat memunculkan tekanan besar dari berbagai pihak. Namun, Van Gastel mengaku salut karena para pemain tetap menunjukkan semangat juang tinggi di tengah kritik yang terus berdatangan.
PSIM Yogyakarta kini aman dari degradasi, tetapi tantangan sesungguhnya untuk memperbaiki kualitas tim, terutama di lini serang, masih menanti di depan mata.
