Jakarta, Jumat – Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang, Jakarta Timur, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor antara bidang kesehatan dan ekonomi merupakan kunci vital dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Akademisi Fakultas Vokasi UKI, Jisman Lubis, menyoroti hubungan timbal balik yang saling memperkuat antara kedua sektor tersebut. “Kondisi kesehatan masyarakat yang baik akan meningkatkan produktivitas, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujar Jisman di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Menurut Jisman, pendekatan kolaboratif transdisipliner dan lintas sektoral sangat esensial untuk mengurangi kesenjangan sosial sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Ia menjelaskan, kolaborasi transdisipliner mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu akademik dengan pengetahuan non-akademis, seperti dari praktisi dan masyarakat, guna memecahkan masalah kompleks di dunia nyata.
“Pendekatan preventif menjadi strategi ekonomi yang paling efisien. Oleh karena itu, literasi kesehatan dan literasi ekonomi harus berjalan secara berdampingan,” tegasnya.
Jisman juga mengungkapkan data terkini, di mana cakupan kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah mencapai lebih dari 90 persen populasi Indonesia. Sementara itu, belanja kesehatan nasional tercatat sekitar tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2025 mencapai angka 76, menandakan kemajuan dalam kualitas hidup masyarakat.
Melalui kolaborasi antara akademisi, pemangku kepentingan, dan pembuat kebijakan, Jisman meyakini akses terhadap layanan kesehatan primer dapat semakin diperluas. “Kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat meningkatkan akses layanan kesehatan primer dan menurunkan risiko kemiskinan akibat biaya kesehatan,” tambahnya.
Ia turut menekankan peran mahasiswa sebagai calon profesional masa depan yang diharapkan mampu memfasilitasi kolaborasi lintas sektor serta menerapkan keterampilan praktis lintas disiplin dalam kehidupan nyata. Mahasiswa, menurut Jisman, tidak hanya berperan sebagai peserta didik, tetapi juga agen perubahan yang dapat berkontribusi langsung dalam menjawab berbagai tantangan sosial dan kesehatan masyarakat.
“Mahasiswa diharapkan dapat langsung turun ke masyarakat, mengimplementasikan ilmu praktis (applied science) sehingga membantu masyarakat menghadapi permasalahan di era yang penuh ketidakpastian,” tuturnya.
Jisman lebih lanjut menjelaskan, tantangan saat ini ditandai dengan kondisi gabungan situasi (VUCA), yakni volatilitas (Volatility), ketidakpastian (Uncertainty), kompleksitas (Complexity), dan ambiguitas (Ambiguity). Kondisi ini menggambarkan dunia yang cepat berubah dan sulit diprediksi. Bahkan, kondisi global saat ini juga dinilai telah memasuki era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible), di mana hubungan sebab-akibat tidak lagi mudah dipahami.
“Dalam situasi seperti ini, mahasiswa Fakultas Vokasi UKI harus mampu menyeimbangkan antara kesehatan dan ekonomi agar dapat menghadapi dinamika perubahan yang semakin kompleks,” tegas Jisman.
Senada dengan Jisman, Dekan Fakultas Vokasi UKI, Maksimus, menggarisbawahi pentingnya pendekatan transdisiplin dalam menghadapi berbagai persoalan kompleks, baik di tingkat lokal, regional, maupun global. Pendekatan ini memungkinkan integrasi berbagai disiplin ilmu untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap suatu masalah.
“Pendekatan transdisiplin memiliki konsep integrasi untuk meningkatkan pemahaman masalah. Kita juga perlu memanfaatkan teknologi untuk mempermudah kehidupan manusia,” ungkap Maksimus.
Ia menambahkan, pendekatan transdisiplin tidak hanya melibatkan berbagai disiplin ilmu, tetapi juga beragam aktor, termasuk akademisi, praktisi, serta pembuat kebijakan. Tujuannya adalah menghasilkan pengetahuan yang kritis, informatif, dan aplikatif dalam menjawab persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat. “Karena itu, diperlukan dialog untuk menghubungkan dan meningkatkan saling pengertian antardisiplin,” terang Maksimus.
Pernyataan ini disampaikan dalam kuliah umum bertajuk “Transdisciplinary and Transcollaborative Synergies Between Health and Economics” yang diselenggarakan oleh Badan Pekerja Senat Mahasiswa (BPSM) Fakultas Vokasi UKI pada Kamis (5/3/2026) di Ruang Seminar UKI Jakarta.
Sumber Gambar: https://kilatnews.co/uki-sebut-kolaborasi-sektor-kesehatan-kunci-pertumbuhan-ekonomi/ 