Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu tengah melaksanakan penelitian mendalam mengenai akses pendidikan keagamaan di dua desa terpencil di Sulawesi Tengah. Riset ini menyasar Desa Adat Balamoa di Kabupaten Sigi dan Desa Pakava di Kabupaten Donggala, yang dinilai merepresentasikan tantangan masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Fokus pada Keterbatasan Akses
Ketua tim penelitian UIN Datokarama, Nurhayati, menjelaskan bahwa Desa Balamoa dipilih karena memiliki karakteristik sosial yang unik. “Desa Balamoa memiliki kondisi sosial yang khas, terutama terkait akses layanan pendidikan keagamaan di tengah keterbatasan infrastruktur,” ujar Nurhayati di Palu, Jumat (22/5/2026).
Penelitian yang berlangsung sejak 21 hingga 24 Mei 2026 ini merupakan bagian integral dari program MORA THE AIR FUND Kementerian Agama-LPDP. Program ini secara spesifik mengkaji sejauh mana masyarakat di daerah tertinggal dapat mengakses pendidikan keagamaan.
Nurhayati menambahkan, kondisi geografis yang menantang dan minimnya fasilitas publik di Desa Balamoa menjadi hambatan utama bagi warga dalam memperoleh layanan pendidikan keagamaan yang memadai. “Ini penting dikaji untuk melihat sejauh mana masyarakat di wilayah terpencil, dapat mengakses pendidikan keagamaan secara layak dan merata,” tegasnya.
Dua Tahap Penelitian
Riset ini memasuki tahap kedua, di mana tim peneliti melakukan survei lapangan untuk memperkuat temuan dari penelitian sebelumnya yang telah dilaksanakan pada Maret 2026. Pada tahap awal, fokus penelitian adalah wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan aktor-aktor keagamaan setempat.
Sementara itu, survei terbaru ini lebih menitikberatkan pada pemetaan akses pendidikan keagamaan masyarakat secara lebih luas, termasuk mengidentifikasi berbagai hambatan yang dihadapi warga dalam mendapatkan layanan pendidikan tersebut.
Selain di Desa Balamoa, penelitian serupa juga dilakukan di Desa Pakava, Kabupaten Donggala. Pemilihan kedua wilayah ini didasarkan pada kesamaan tantangan yang dihadapi masyarakatnya dalam mengakses pendidikan keagamaan.
Tim peneliti berharap, hasil riset ini dapat memberikan kontribusi signifikan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah. Tujuannya adalah untuk menyusun kebijakan pendidikan keagamaan yang lebih inklusif, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah 3T.
