Nahdlatul Ulama (NU) telah menapaki usia satu abad sejak kelahirannya pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Memasuki abad kedua, organisasi Islam terbesar di Indonesia ini dihadapkan pada ekspektasi besar untuk tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga menjadi lokomotif peradaban dunia melalui berbagai transformasi strategis.
Menurut Wakil Ketua IKA PMII Jawa Timur, Adib Makarim, perjalanan satu abad NU merupakan kisah perjuangan panjang bagi sebuah organisasi berhaluan Islam ahlus sunah wal jamaah yang moderat, menghargai kearifan lokal, dan rahmatan lil alamiin. Tema Harlah NU ke-100, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”, merefleksikan cita-cita bangsa yang merdeka dan mampu bersaing dalam peradaban dunia dengan norma akhlakul karimah.
Sejarah Singkat dan Peran NU
NU didirikan oleh ulama besar seperti Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rois Akbar/Rois Aam pertama, KH. Abdul Wahab Hasbulloh dari Tambak Beras sebagai penggagas Komite Hijaz, dan KH. Bisri Syansuri dari Denanyar Jombang yang dikenal ahli fiqih serta tokoh sentral pendidikan pesantren.
Dalam perjalanannya, NU pernah terlibat dalam politik praktis sebagai partai politik dari tahun 1950 hingga 1984. Keterlibatan ini kerap memicu konflik kepentingan. Oleh karena itu, pada Muktamar ke-22 di Situbondo tahun 1984, NU mencetuskan Khittah NU, menegaskan kembali posisinya sebagai organisasi keagamaan yang konsen pada sosial keagamaan, bukan partai politik.
Mujahadah Kubro dan Refleksi Abad Pertama
Peringatan satu abad NU menuju abad kedua ditandai dengan gelaran “Mujahadah Kubro” oleh PWNU Jawa Timur pada Minggu, 8 Februari 2026, di Stadion Gajayana Malang. Acara ini dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto, Pengurus PBNU, PWNU, dan Gubernur Jawa Timur. Ratusan ribu umat Nahdliyin dari berbagai badan otonom seperti Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU-IPPNU, PMII, ISNU, hingga Pagar Nusa, turut serta dalam doa khidmat untuk keselamatan bangsa dan kemerdekaan Indonesia yang hakiki.
Adib Makarim menekankan bahwa NU, dengan organisasinya yang lengkap dan kompleks, telah membuktikan kontribusi nyata dalam pelayanan keumatan. NU hadir dengan kearifan lokal yang berakar pada nasionalisme dan budaya, berfungsi sebagai filter radikalisme dan arus globalisasi yang destruktif. Lebih dari itu, NU membawa misi peradaban untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkeadilan.
Empat Pilar Strategis Menyongsong Abad Kedua
Menyongsong abad kedua, NU dituntut untuk adaptif menjadi penggerak peradaban dunia dengan kemandirian ekonomi dan keunggulan intelektual. Adib Makarim mengidentifikasi setidaknya empat pilar strategis yang harus diperjuangkan:
1. Transformasi Ekonomi: Dari Konsumen Menjadi Produsen
Selama seratus tahun, basis massa Nahdliyin sering dipersepsikan sebagai objek konsumen daripada pelaku ekonomi aktif. Sudah saatnya NU mengubah pola pikir ini dengan merealisasikan digitalisasi ekonomi keumatan, seperti digitalisasi UMKM. Ini bertujuan mengajak jutaan petani dan pedagang kecil masuk ekosistem ekonomi digital agar mampu bersaing dengan korporasi besar. NU diharapkan membimbing jamaah untuk berinvestasi pada teknologi dan energi terbarukan, membangun platform e-commerce, memiliki sistem payment gateway terintegrasi, dan memproduksi data, bukan hanya sebagai pengguna aplikasi asing.
2. Modernisasi Pendidikan Pesantren
Pesantren sebagai fondasi utama NU diharapkan tidak “jumud” sebagai transmisi ilmu agama saja. Sebaliknya, pesantren harus bertransformasi dalam peningkatan keterampilan (skill) santri, menjadi inkubator pendidikan modern yang relevan dengan dunia kerja, serta memanfaatkan ruang digital untuk memperkuat intelektualitas.
Pemerintah telah mendukung modernisasi ini dengan mengesahkan Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. UU ini mengatur penyelenggaraan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat di pesantren, memberikan rekognisi, afirmasi, serta fasilitasi, sambil tetap mempertahankan kekhasan tradisi pesantren. Langkah ini mendorong pesantren untuk tertib secara manajerial dengan sistem pendataan melalui EMIS (Education Management Information System), mengubah citra “tradisional eksklusif” menjadi “modern akuntabel” tanpa mengubah kearifan lokal.
3. Transformasi Digital dan Bonus Demografi
Data Sensus Penduduk BPS 2020 menunjukkan bahwa generasi Z (lahir 1997-2012) mencapai 27,94 persen atau 75,49 juta jiwa dari total 270,2 juta penduduk Indonesia, diikuti Generasi Milenial (25,87 persen) dan Generasi X (21,88 persen). Fenomena bonus demografi ini, di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih dominan, menuntut generasi muda NU untuk tidak gagap teknologi.
Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi generasi muda NU. Mereka harus berpacu melakukan digitalisasi data, dakwah virtual, dan menguasai algoritma media sosial secara holistik. Transformasi digital merupakan perubahan fundamental dalam cara organisasi secara bijak memfungsikan teknologi mutakhir.
4. Kontribusi Peradaban Dunia
Sejalan dengan tema Harlah ke-100, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”, NU sudah seharusnya memainkan peran kunci dalam diplomasi peradaban internasional untuk perdamaian dunia, sebagaimana NU memiliki konsep fiqih peradaban. NU diharapkan menjadi ujung tombak yang menjadikan agama sebagai solusi dalam konflik global.
Sebagai wadah organisasi keagamaan, NU seyogianya terus mensyiarkan Islam Nusantara untuk dunia, mempromosikan model Islam yang moderat, toleran, dan mampu berdampingan secara damai dengan semua bangsa berlandaskan rahmatan lil alamiin (rahmat bagi semesta alam).
Pada akhirnya, Nahdlatul Ulama diharapkan mampu menjawab ekspektasi global dengan kontribusi nyata di kancah internasional. NU tidak boleh lagi hanya berfokus merawat tradisi (al muhafadzatu ‘ala qodimis sholih), tetapi harus aktif secara agresif menciptakan inovasi dan ekspansi peran global menjadi lokomotif peradaban dunia (wal akhdu bil jadidil ashlah). Selamat Harlah ke-100 dan selamat datang abad kedua Nahdlatul Ulama.
