PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) mengambil langkah antisipatif dengan menyiagakan alat Electric Rubber Tyred Gantry (E-RTG) baru serta menyiapkan lahan tambahan. Upaya ini dilakukan untuk menjamin kelancaran arus logistik barang ekspor-impor menjelang periode Idul Fitri 1447 H. Langkah ini krusial guna mencegah penumpukan barang di pelabuhan yang dapat mengganggu distribusi kebutuhan pokok masyarakat saat masa puncak konsumsi nasional.
Strategi Pengawasan dan Peningkatan Kapasitas
Manajemen TPS memperketat pengawasan operasional dengan menerapkan Berth Allocation Strategy, yaitu pengaturan jadwal sandar kapal secara presisi. Strategi ini didukung oleh pusat kendali Integrated Planning and Control (PnC) yang beroperasi 24 jam penuh untuk memantau setiap pergerakan petikemas. Di lapangan, TPS mengoperasikan armada E-RTG baru yang dirancang untuk mempercepat proses pengambilan (delivery) maupun penerimaan (receiving) barang.
Senior Vice President Operasi Terminal TPS, Didik Kurniawan, menjelaskan bahwa sinkronisasi antarbagian menjadi penentu utama ketepatan waktu bongkar muat. Pihaknya berkomitmen untuk menghindari keterlambatan yang berpotensi berdampak pada peningkatan biaya logistik.
“Kami menata ulang jadwal sandar dan memperkuat kesiapan alat. Koordinasi dengan berbagai instansi juga semakin intens. Tujuan kami satu, memastikan aktivitas di dermaga tetap tertib dan aman meskipun trafik meningkat tajam,” kata Didik.
Kesiapan Lahan dan Mitigasi Lonjakan
Hingga awal Maret 2026, tingkat hunian lapangan (Yard Occupancy Ratio/YOR) di TPS terpantau stabil pada angka 50,7 persen. Rinciannya, area impor berada di level 47,86 persen, sementara area ekspor mencapai 53,61 persen. Meskipun angka ini masih jauh dari batas kapasitas maksimal, TPS telah menyiapkan langkah mitigasi jika terjadi lonjakan mendadak.
Sejumlah lahan tambahan di blok W1 hingga W4, serta area jalur kereta api (railway), telah disiagakan sebagai lokasi penumpukan cadangan. Selain itu, TPS menjalin kerja sama dengan Bea Cukai untuk mempercepat proses Pemindahan Lokasi Penimbunan (PLP) ke depo-depo mitra apabila kapasitas terminal mulai penuh.
Sinergi Lintas Sektoral dan Keselamatan Kerja
Selain kesiapan infrastruktur fisik, penguatan sumber daya manusia dan penegakan standar keselamatan kerja (HSSE) menjadi prioritas utama. Sinergi lintas sektoral bersama Kepolisian, Karantina, dan pelaku usaha terus diintensifkan. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan tidak ada hambatan birokrasi yang dapat memperlambat arus logistik di gerbang utama ekspor-impor Jawa Timur tersebut.
sumber gambar: jatimnow.com 