Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika () memprediksi hilal untuk penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah akan sulit teramati di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk , pada Selasa sore, 24 Februari 2026. Observasi hilal diperkirakan baru akan memenuhi kriteria visibilitas pada Rabu, 25 Februari 2026, menandakan potensi awal puasa yang serentak.

Menurut data hisab BMKG, posisi hilal pada 24 Februari 2026 saat matahari terbenam di Indonesia masih berada di bawah ambang batas kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Kriteria MABIMS menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat agar hilal dapat dianggap teramati.

Khusus untuk wilayah Bandung, BMKG memperkirakan tinggi hilal pada Selasa sore, 24 Februari 2026, hanya berkisar antara 1 hingga 2 derajat di atas ufuk. Sementara itu, nilai elongasi atau jarak sudut bulan-matahari diperkirakan berada di angka 4 hingga 5 derajat. Angka-angka ini jelas belum memenuhi standar kriteria MABIMS.

Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Daryono, dalam keterangannya pada Kamis (19/2), menjelaskan, “Berdasarkan data hisab kami, tinggi hilal pada Selasa sore masih di bawah ambang batas kriteria MABIMS di sebagian besar wilayah Indonesia. Ini berarti kemungkinan besar hilal belum dapat terlihat.”

Penentuan resmi awal Ramadhan 1447 H akan diputuskan melalui Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia pada Selasa sore, 24 Februari 2026. Sidang ini akan mempertimbangkan hasil perhitungan hisab dan laporan rukyatul hilal (pengamatan hilal) dari berbagai titik di seluruh Indonesia. BMKG sendiri hanya bertugas menyediakan data hisab sebagai salah satu masukan bagi Kementerian Agama.

Meskipun prediksi BMKG menunjukkan hilal sulit terlihat pada Selasa, masyarakat diimbau untuk tetap menunggu pengumuman resmi dari Kementerian Agama. Potensi perbedaan awal Ramadhan antara pemerintah dan beberapa organisasi masyarakat Islam, seperti Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab wujudul hilal, selalu menjadi perhatian jika kriteria visibilitas hilal tidak terpenuhi secara luas.