Sebelum membahas perubahan, kita perlu jujur melihat akar masalahnya. Pengamat Sosial Politik, Andi Fardian, M.A., menegaskan bahwa persoalan terbesar di Bima dan Dompu bukan semata-mata terletak pada anggaran, infrastruktur, atau program pembangunan. Menurutnya, masalah yang lebih mendasar adalah pola pikir yang usang.

Andi Fardian menguraikan bahwa pola pikir usang ini termanifestasi dalam beberapa aspek krusial:

  • Kebiasaan Membohongi Diri Sendiri Secara Kolektif: Banyak pihak enggan mengakui realitas ketertinggalan daerah. Kritik sering dianggap sebagai serangan terhadap harga diri daerah, bukan sebagai masukan konstruktif. “Akibatnya, kita lebih sibuk mempertahankan kebanggaan semu daripada memperbaiki keadaan,” ujar Andi.

  • Mentalitas Memuji Kekuasaan: Lingkaran orang-orang di Bima-Dompu cenderung memoles citra pemerintah, mengklaim kemajuan dan kesejahteraan yang seringkali bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan. “Yang mengatakan Bima-Dompu maju biasanya hanya pemerintahnya, bupatinya, tim suksesnya, dan orang-orang yang hidup dan menjilat di sekitar kekuasaan,” kritiknya.

  • Budaya Debat Tanpa Solusi: Energi masyarakat banyak terkuras untuk memperdebatkan hal-hal tidak produktif seperti konflik kecil, urusan gengsi, atau persaingan sempit antarkelompok. Waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk membangun gagasan justru habis untuk mempertahankan ego.

  • Pendidikan yang Tidak Melahirkan Perubahan: Banyak individu yang menempuh pendidikan tinggi, bahkan di luar daerah, namun tidak membawa perubahan signifikan saat kembali. Ijazah hanya menjadi simbol status sosial, bukan instrumen penggerak kemajuan.

  • Feodalisme: Baik feodalisme terhadap kekuasaan maupun sistem kasta sosial masih mengakar. Kritik terhadap pemerintah sering dianggap tidak sopan, seolah penguasa tak boleh dikritik. Selain itu, penilaian seseorang masih didasarkan pada asal-usul keluarga atau status, bukan kapasitas dan integritas. “Pola pikir seperti ini membuat masyarakat sulit maju karena merit, gagasan, dan kemampuan sering kalah oleh loyalitas dan status,” jelas Andi.

Menyikapi kondisi ini, Andi Fardian selalu menekankan kepada mahasiswa Bima-Dompu yang menempuh studi di Yogyakarta. “Kalau kalian pulang nanti, jangan hanya bawa ijazah. Bawa juga pulang pola pikir yang maju,” pesannya.

Ia menjelaskan, Yogyakarta bukan sekadar kota pendidikan, melainkan ruang intelektual tempat orang terbiasa berdiskusi, berbeda pendapat tanpa bermusuhan, berpikir kritis terhadap kekuasaan, dan mencari solusi atas masalah sosial. Lingkungan semacam itu membentuk cara berpikir yang lebih terbuka dan rasional, yang menurutnya, “Pola pikir seperti itulah yang seharusnya dibawa pulang ke Bima-Dompu.”

Andi Fardian mengajak untuk bersikap jujur. “Kita harus jujur: sampai hari ini Bima-Dompu tergolong daerah yang tidak berkembang. Pembangunannya berjalan lambat, bahkan sering terasa berjalan di tempat,” tegasnya. Ia menyoroti kesia-siaan mempertahankan kebanggaan semu. “Tidak ada gunanya kita terus mengatakan “daerah kita sudah maju” hanya demi menjaga harga diri kolektif. Berkembang dari mananya?” tanyanya retoris.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pendidikan tinggi harus memiliki dampak nyata. “Kalau yang kalian bawa pulang dari Yogyakarta hanya cerita bahwa kalian pernah kuliah di sana, lalu petantang-petenteng dengan status itu, maka pendidikan kalian tidak ada gunanya bagi daerah,” kritiknya.

Menurutnya, ilmu dan intelektualitas memiliki nilai sejati ketika memberikan manfaat bagi masyarakat. “Ilmu tidak bernilai jika hanya dipakai untuk menaikkan gengsi pribadi. Intelektualitas tidak berarti apa-apa jika hanya digunakan agar orang lain menganggap kita pintar,” kata Andi. “Ilmu dan intelektualitas baru punya makna ketika memberi manfaat bagi masyarakat.”

Oleh karena itu, mahasiswa Bima-Dompu yang belajar di luar daerah memikul tanggung jawab moral. Mereka memiliki kesempatan untuk melihat cara berpikir yang lebih maju, cara berdiskusi yang lebih sehat, dan cara memandang masalah secara lebih rasional. “Bawalah itu pulang,” serunya.

Andi Fardian menyimpulkan bahwa Bima-Dompu sangat membutuhkan individu yang berani membawa pola pikir baru dan menggunakannya untuk memperbaiki keadaan. Jika generasi muda hanya mewarisi pola pikir lama—yang defensif terhadap kritik, mudah tersinggung, dan sibuk menjaga gengsi—maka daerah ini akan terus stagnan. “Sudah waktunya kita jujur kepada diri sendiri: kemajuan daerah tidak ditentukan oleh seberapa keras kita memuji daerah kita, tetapi oleh seberapa berani kita mengubah cara berpikir kita,” pungkasnya.