DESA Sibio-bio di Kecamatan Sibabangun, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, masih terisolasi setelah bencana banjir dan longsor pada 25 November 2025 merusak dua jembatan penghubung utama. Kondisi ini membuat sekitar 200 kepala keluarga di desa tersebut hidup tanpa akses jalan yang layak selama lebih dari tiga bulan.
Derasnya arus air saat kejadian tidak hanya menghanyutkan harapan warga, tetapi juga merobohkan satu jembatan gantung dan satu jembatan permanen yang menjadi satu-satunya jalur keluar masuk desa. Sejak saat itu, kehidupan warga berubah drastis, memaksa mereka menghadapi risiko tinggi setiap hari.
Perjuangan Menyeberangi Sungai Aek Sibio-bio
Untuk mendapatkan kebutuhan pokok seperti beras, obat-obatan, atau kebutuhan sehari-hari lainnya, warga harus menyeberangi Sungai Aek Sibio-bio dengan berjalan kaki. Mereka menantang derasnya arus dan licinnya bebatuan sungai, sebuah perjalanan yang penuh bahaya.
Meiyaman Zebua (55), salah seorang warga setempat, mengungkapkan kelelahan dan kepasrahannya menghadapi kondisi yang tak kunjung membaik. “Kami harus bertarung dengan risiko yang sangat tinggi hanya untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Setiap hari Senin, warga berbondong-bondong keluar desa menuju perkampungan di seberang sungai untuk berbelanja kebutuhan pokok. Barang yang dibawa harus cukup untuk persediaan selama sepekan, mengingat perjalanan yang sulit dan tidak memungkinkan untuk dilakukan setiap hari. Tak jarang, banyak warga memilih menahan kebutuhan mereka karena takut menyeberang saat debit air sungai meningkat, terutama saat musim hujan.
Dampak Keterisolasian yang Melumpuhkan
Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan dalam situasi ini, menghadapi ancaman serius setiap kali harus menyeberang. Keterisolasian yang berkepanjangan tidak hanya memutus akses transportasi, tetapi juga secara perlahan melumpuhkan denyut ekonomi warga.
Aktivitas jual beli tersendat, mobilitas terbatas, dan rasa cemas terus menghantui kehidupan sehari-hari masyarakat Sibio-bio. Warga sangat berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan penghubung tersebut, sebelum kondisi keterisolasian ini menimbulkan tragedi baru yang tidak diinginkan.
