Empat mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) berhasil menciptakan terobosan dalam industri fesyen dengan mengubah limbah serabut kelapa menjadi tas yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga ramah lingkungan. Inovasi ini menawarkan solusi berkelanjutan di tengah tantangan limbah industri mode yang terus meningkat.
Mengurangi Limbah, Menumbuhkan Kehidupan
Produk tas berbahan dasar serabut kelapa ini dikembangkan oleh Emily Jocelyn, Johan Febriawan, Tutik Masruroh, dan Jibrail Fajar dari Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif Ubaya. Mereka berempat tergerak oleh keresahan akan dampak negatif industri fesyen yang dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar dan konsumen energi tinggi.
Tim kemudian berupaya mencari bahan baku alternatif yang mudah didapat, kuat, serta memiliki jejak lingkungan yang rendah. Pilihan jatuh pada serabut kelapa, material yang melimpah di Indonesia namun seringkali belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Kami memilih serabut kelapa karena Indonesia termasuk produsen besar. Harganya murah, kuat, serta punya motif dan tekstur yang unik,” ungkap Johan Febriawan, salah satu anggota tim, menjelaskan alasan di balik pemilihan bahan tersebut.
Proses Inovatif dan Komponen Ramah Lingkungan
Proses produksi tas ini melibatkan peracikan perekat khusus yang terbuat dari campuran tepung tapioka, air, dan gliserin. Perekat alami ini dipilih untuk menjaga fleksibilitas material sekaligus memastikan seluruh komponen tas tetap aman bagi lingkungan.
Serabut kelapa diolah menjadi lembaran melalui proses pelapisan perekat di kedua sisinya, kemudian dikeringkan sebelum dijahit menjadi bentuk tas. Untuk menambah nilai guna dan memperkuat konsep keberlanjutan, tas ini dilengkapi dengan gantungan berisi lima jenis biji bunga, yaitu matahari, celosia, anyelir, forget me not, dan baby’s breath.
Konsep ini membuka dimensi baru dalam siklus hidup produk fesyen. Ketika tas tidak lagi digunakan, materialnya dapat terurai secara alami di tanah, sementara biji bunga yang tertanam berpotensi tumbuh menjadi tanaman baru.
“Kami memastikan bahan perekat tetap aman bagi lingkungan. Ketika tas sudah rusak, produk bisa ditanam dan terurai secara alami, lalu bibit bunganya dapat tumbuh,” tegas Johan, menyoroti aspek daur ulang dan keberlanjutan produk mereka.
Tantangan dan Potensi Masa Depan
Meski demikian, tim pengembang menghadapi beberapa kendala teknis dalam proses inovasi ini. Salah satunya adalah ketergantungan pada sinar matahari untuk pengeringan material, yang menyebabkan produksi melambat saat musim hujan. Selain itu, penyatuan lembaran serabut kelapa masih dilakukan dengan jahit tangan, membutuhkan waktu dan ketelitian tinggi.
Meskipun belum memasuki tahap produksi massal, karya mahasiswa Ubaya ini telah membuka peluang baru bagi industri kreatif di Indonesia. Pemanfaatan limbah serabut kelapa sebagai bahan baku alternatif lokal menunjukkan potensi besar yang selama ini belum tergarap optimal.
Inisiatif ini tidak hanya menghasilkan produk fesyen yang unik, tetapi juga menyampaikan pesan penting: bahan ramah lingkungan tersedia melimpah di sekitar kita. Kuncinya adalah keberanian untuk mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, sekaligus berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan.
