DEMAK – Ratusan keluarga atau sekitar 600 jiwa di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, terpaksa dievakuasi setelah tanggul Sungai Tuntang jebol di tiga titik pada Jumat (3/4/2026). Insiden ini menyebabkan sejumlah desa di tiga kecamatan, yakni Guntur, Karangtengah, dan Wonosalam, terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter.

Berdasarkan pantauan hingga Jumat malam, banjir setinggi 0,8 hingga 1,5 meter masih merendam Desa Trimulyo dan Sidorejo di Kecamatan Guntur. Jebolnya tanggul Sungai Tuntang di tiga titik, dua di Desa Trimulyo dan satu di Desa Sidorejo, dengan panjang antara 10 hingga 50 meter, tidak hanya menenggelamkan jalan desa dan lahan pertanian, tetapi juga ratusan rumah warga di kedua desa tersebut.

Akibat genangan air yang melanda sejak siang hari, ratusan keluarga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Banyak di antara mereka bertahan di lokasi pengungsian di desa tetangga demi keselamatan, mengingat ketinggian air di dalam rumah mencapai satu meter.

“Kita dibawa ke dini menggunakan perahu karet,” ujar Sarifah, salah seorang pengungsi, menggambarkan proses evakuasi yang dialaminya.

Warga lainnya, Suhardi, menjelaskan bahwa banjir terjadi setelah hujan lebat mengguyur sejumlah daerah hulu sungai, seperti Kabupaten Semarang. Kondisi ini menyebabkan volume air Sungai Tuntang meningkat drastis, dan tanggul sungai tidak mampu menahan gempuran air sehingga akhirnya jebol.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak, Agus Sukiyono, membenarkan bahwa jebolnya tanggul Sungai Tuntang di tiga titik tersebut mengakibatkan sejumlah desa di tiga kecamatan, yaitu Guntur, Karangtengah, dan Wonosalam, terendam banjir dengan ketinggian hingga 1,5 meter.

“Ada sekitar 150 keluarga atau 600 jiwa saat ini telah dievakuasi dan diungsikan ke desa lain yang lebih aman,” ungkap Agus Sukiyono pada Jumat (3/4).

Hingga petang, air belum menunjukkan tanda-tanda surut. Agus Sukiyono menambahkan bahwa penambalan tanggul yang jebol belum dapat dilakukan karena volume air Sungai Tuntang masih tinggi dan mengalir deras ke permukiman penduduk.

“Kami bersama tim terpadu seperti kepolisian, TNI, Dinas Sosial, PMI, dan relawan terus berupaya melakukan penanganan,” imbuhnya.

Kepala Bagian Operasional Polres Demak, Kompol Wasito, menjelaskan bahwa penanganan awal bencana banjir ini difokuskan pada keselamatan warga, terutama lansia, anak-anak, dan wanita.

“Kami langsung bergerak mengevakuasi warga kebtemiat yang aman, karena rumahnya terendam banjir hingga diatas 1,5 meter,” kata Wasito.

Selain mengevakuasi warga ke tempat pengungsian sementara, tim gabungan yang terdiri dari berbagai instansi pemerintah juga mendirikan dapur umum untuk menjamin kebutuhan logistik bagi ratusan jiwa yang kini masih bertahan di pengungsian.