Secercah harapan untuk keberlanjutan Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo di Bandung, Jawa Barat, kini muncul. Taman Safari Indonesia (TSI) secara resmi mengonfirmasi kesiapannya untuk berpartisipasi dalam proses lelang pengelolaan Kebun Binatang Bandung.

Langkah ini, seperti diungkapkan pihak manajemen TSI melalui siaran pers yang diterima pada Rabu (6/5), merupakan bagian dari komitmen TSI terhadap keberlangsungan fungsi konservasi, kesejahteraan satwa, serta tata kelola lembaga konservasi yang profesional dan berkelanjutan.

Komitmen Konservasi dan Transparansi

Sebagai bentuk keseriusan, TSI telah mengikuti tahapan awal yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota Bandung, termasuk berpartisipasi dalam forum Market Sounding. Dalam forum tersebut, Pemerintah Kota Bandung menyampaikan rencana tindak lanjut proses pengelolaan. Namun, hingga saat ini, TSI masih menunggu kejelasan resmi mengenai tahapan berikutnya.

Direktur Utama Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, pada Kamis (7/5), menyatakan harapannya agar proses tersebut dapat berjalan secara transparan dan akuntabel. “Sejalan dengan prinsip good corporate governance, TSI berharap proses tersebut dapat berjalan secara transparan, akuntabel. Selain itu juga bisa memberikan kesempatan yang setara bagi pihak-pihak yang memiliki kapasitas, serta komitmen terhadap pengelolaan lembaga konservasi secara profesional dan berkelanjutan,” ungkap Aswin.

Aswin menegaskan bahwa pengelolaan lembaga konservasi bukan sekadar persoalan operasional. “Bagi kami, pengelolaan lembaga konservasi bukan semata persoalan operasional, tetapi juga amanah jangka panjang yang berkaitan dengan kesejahteraan satwa. Selain itu juga aspek edukasi publik, kepatuhan terhadap regulasi, serta keberlanjutan institusi. Karena itu, proses pengelolaan harus dilakukan secara prudent, terukur, dan mengedepankan kepentingan konservasi,” jelasnya.

Sebagai lembaga konservasi, TSI memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh satwa memperoleh standar perawatan, kesehatan, dan kesejahteraan yang sesuai dengan prinsip animal welfare serta ketentuan konservasi yang berlaku. “Fokus utama kami adalah memastikan bahwa seluruh keputusan yang diambil tetap menempatkan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan satwa sebagai prioritas utama, dengan tetap menghormati proses, kewenangan regulator, dan ketentuan yang berlaku,” tambah Aswin.

Potensi dan Rekam Jejak Taman Safari Indonesia

Dengan rekam jejak lebih dari 40 tahun dalam pengelolaan lembaga konservasi di Indonesia, TSI memandang Kebun Binatang Bandung memiliki potensi strategis untuk berkembang menjadi lembaga konservasi modern berstandar internasional, tanpa menghilangkan nilai sejarah dan kedekatannya dengan masyarakat Kota Bandung.

TSI juga menegaskan bahwa kepastian proses pengelolaan menjadi hal yang penting. Hal ini mengingat saat ini terdapat sejumlah satwa yang dipercayakan negara kepada Taman Safari Indonesia dan ditempatkan di Kebun Binatang Bandung berdasarkan mekanisme yang berlaku. Dalam konteks tersebut, kepastian pengelolaan menjadi syarat utama untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan satwa-satwa tersebut.

Sebagai informasi, TSI adalah taman rekreasi bertema dan lembaga konservasi kelas dunia yang tersebar di enam kota terbesar dan empat resor di seluruh Indonesia. Saat ini, TSI memiliki lebih dari 673 spesies dan 22.963 satwa, serta menarik lebih dari 5 juta pengunjung setiap tahunnya.

Sejak 1981, TSI telah memainkan peran penting dalam menyelamatkan, merehabilitasi, dan memperkenalkan ribuan satwa kembali ke alam liar. Sebagai hasilnya, TSI telah menjadi organisasi konservasi global terkemuka untuk satwa liar endemik Indonesia dan spesies yang terancam punah. TSI telah meraih empat sertifikasi internasional dan lebih dari 20 penghargaan nasional atas upayanya dalam bidang konservasi dan rekreasi.

Perjalanan TSI dimulai dengan pembukaan area konservasi satwa liarnya yang pertama, The Great Taman Safari Bogor, di Cisarua, Bogor, pada bulan April 1981. Seiring berjalannya waktu, TSI memperluas jejaknya dengan mendirikan The Grand Taman Safari Indonesia Prigen di Pasuruan, Jawa Timur, pada bulan Desember 1997. Keberhasilan dua area konservasi ini menginspirasi Taman Safari Indonesia untuk terus berkarya dengan bertambahnya The Amazing Taman Safari Bali, The Fantastic Beach Safari di Batang, Jawa Tengah, Jakarta Aquarium & Safari, Solo Safari, dan yang terbaru Marine Safari Bali, Varuna Bali, dan Enchanting Valley Bogor.