Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah memaparkan pertumbuhan signifikan transaksi non tunai berbasis QRIS di Kota Palu. Sepanjang tahun 2025, volume transaksi QRIS di provinsi ini mencapai 19.449.573 transaksi, mendominasi 51% dari total transaksi non tunai di 12 kabupaten.
Asisten Direktur KPwBI Sulteng, Miftahul Choiri, menegaskan peran sentral Kota Palu dalam ekosistem pembayaran digital. “Kota Palu menjadi pusat merchant QRIS di Sulteng dan kontributor utama dalam mendorong transaksi non tunai di wilayah ini,” ungkap Miftahul di Palu, Selasa (10/2).
Perkembangan transaksi digital di Palu menunjukkan tren yang sangat positif. Pada Triwulan IV 2025 saja, volume transaksi QRIS di ibu kota Sulawesi Tengah ini mencapai sekitar 19 juta transaksi. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan impresif sebesar 142% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain volume transaksi, Kota Palu juga memimpin dalam sebaran jumlah merchant QRIS di Sulawesi Tengah. Tercatat, Palu memiliki total 98.133 merchant, yang setara dengan 32,68% dari keseluruhan merchant di provinsi tersebut. Posisi berikutnya diikuti oleh Kabupaten Banggai dengan 36.332 merchant (12,10%) dan Parigi Moutong dengan 36.063 merchant (12,01%).
Pemaparan ini menjadi bagian dari high level meeting antara Bank Indonesia dan Pemerintah Kota Palu, yang bertujuan untuk mempercepat digitalisasi sistem pembayaran. Inisiatif ini diharapkan dapat menciptakan transaksi yang lebih efisien, aman, dan inklusif bagi masyarakat Sulawesi Tengah.
