Proyek Strategis Nasional (PSN) pengembangan kawasan pangan di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, mulai menunjukkan dampak signifikan terhadap perekonomian masyarakat setempat. Warga Kampung Wanam, yang sebelumnya menggantungkan hidup pada sektor kelautan, kini banyak yang beralih dan terserap sebagai tenaga kerja dalam proyek berskala besar tersebut.

Salah satu warga yang merasakan perubahan adalah Paul Tinus (29). Mantan pelaut asli Kampung Wanam ini mengaku kehidupannya membaik setelah dua tahun bergabung dengan proyek PSN Merauke. Sistem penggajian bulanan yang diterapkan proyek negara ini memberikan kepastian ekonomi bagi istri dan kedua anaknya.

“Ekonomi keluarga saya terbantu. Selain gaji bulanan, keuntungan bekerja di sini adalah saya dekat dengan keluarga. Bisa antar makan ke rumah, lalu balik lagi ke proyek,” ujar Paul saat ditemui di kediamannya pada Minggu (8/2/2026).

Kepala Kampung Wanam, Kosmas Serilius, membenarkan fenomena ini. Ia menyebutkan bahwa dari total 743 jiwa penduduk Wanam, sebagian besar pemuda telah bergabung dan bekerja di kawasan proyek. Kosmas berharap peluang kerja ini akan terus terbuka seiring dengan perluasan lahan yang digarap.

Perwakilan Tim Proyek Wanam, Gawang Kurniawan, menegaskan komitmen pihaknya untuk melibatkan masyarakat adat dan marga setempat sebagai prioritas utama dalam operasional PSN Merauke. “Kami harus bersinergi dengan masyarakat yang ada. Kami melibatkan warga dari marga-marga di sini. Sinergi ini penting agar proyek berjalan beriringan dengan kearifan lokal,” kata Gawang.

Proyek ambisius ini merupakan bagian integral dari agenda ketahanan pangan nasional. Pemerintah menargetkan pembukaan lahan seluas satu juta hektare dalam kurun waktu tiga tahun. Untuk merealisasikan target tersebut, pemerintah menggandeng sejumlah mitra swasta, termasuk Jhonlin Group milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau yang dikenal sebagai Haji Isam.

Haji Isam menyatakan keterlibatannya dalam proyek ini merupakan bentuk penugasan langsung dari negara. Ia menekankan komitmennya untuk memastikan target pembukaan lahan tercapai, tanpa semata-mata memprioritaskan kalkulasi keuntungan komersial. “Ini adalah tugas negara yang diberikan kepada saya. Bagaimanapun caranya, agar satu juta hektare bisa terealisasi dan berhasil dalam tiga tahun tanpa berpikir untung rugi,” tegas Haji Isam saat memantau operasional alat berat di wilayah Wanam.