Antrean panjang pengisian bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Provinsi Aceh mulai berangsur normal setelah berlangsung selama enam hari terakhir. Namun, di tengah meredanya kepadatan antrean, sebagian stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di kawasan pantai utara dan timur Aceh justru mengalami kekosongan stok.

Pantauan di lapangan menunjukkan, kondisi antrean yang sebelumnya memadati Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Pidie kini mulai normal. Situasi serupa juga terlihat di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah yang sempat dilanda panic buying cukup besar. Aparat kepolisian bahkan turut melakukan pengawasan di sejumlah SPBU di wilayah Tanah Gayo guna memastikan distribusi BBM berjalan tertib dan mencegah pembelian berlebihan.

Kekosongan Stok di Pantura-Timur Aceh

Ironisnya, persoalan baru muncul di wilayah pantai utara dan timur Aceh yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Sejumlah SPBU di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, hingga Aceh Tamiang dilaporkan tidak beroperasi karena kehabisan stok BBM. Kekosongan ini tidak hanya menimpa BBM bersubsidi seperti pertalite dan solar, tetapi juga jenis non-subsidi seperti pertamax dan biosolar, kondisi yang dikhawatirkan memicu kepanikan baru di tengah masyarakat.

Berdasarkan penelusuran di jalur nasional Banda Aceh–Medan pada Sabtu hingga Minggu (8/3), beberapa SPBU yang tutup karena stok habis meliputi SPBU Kuta Lawah di Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur; SPBU Ceumpedak di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara; serta SPBU Keude Pante Breueh di Kecamatan Baktiya, Aceh Utara.

Musafir, seorang warga Banda Aceh yang baru kembali dari Aceh Tamiang, mengaku kesulitan mendapatkan BBM sepanjang perjalanannya menuju ibu kota provinsi tersebut. “Saya pulang dari Aceh Tamiang ke Banda Aceh sangat sulit mendapatkan BBM. Banyak SPBU tutup dan hanya memasang papan pengumuman bahwa pertalite atau pertamax sedang dalam pengiriman,” ujarnya.

Dampak pada Kepercayaan Publik dan Saran Pakar

Hingga kini, penyebab pasti kekosongan BBM di sejumlah SPBU tersebut belum diketahui secara jelas, apakah karena keterlambatan pasokan dari depo Pertamina atau faktor lainnya. Namun, kondisi ini dinilai berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap pernyataan pemerintah yang sebelumnya menyebut stok BBM aman.

Rektor Universitas Batam (UNIBA) Profesor Dr. Samsul Rizal menyayangkan kelangkaan BBM di tengah meningkatnya kepanikan masyarakat. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi di tengah beredarnya isu keterbatasan stok BBM nasional. “Untuk membangun kepercayaan masyarakat bahwa stok BBM cukup, ketersediaan di SPBU harus selalu ada. Kalau masyarakat melihat SPBU kosong, tentu kepercayaan itu sulit terbentuk,” kata Samsul Rizal pada Minggu (8/3).

Ia menjelaskan, panic buying dapat memperburuk kondisi distribusi BBM, terutama jika masyarakat membeli dalam jumlah besar atau bahkan menimbun untuk dijual kembali saat terjadi kelangkaan. “Meskipun SPBU buka 24 jam, kalau panic buying tidak mereda tentu persediaannya tidak akan mencukupi. Lebih parah lagi jika ada yang membeli menggunakan drum lalu menyimpannya untuk dijual saat BBM langka,” tegasnya.

Samsul Rizal menyarankan agar Pertamina menambah kuota pasokan BBM ke SPBU di Aceh, terutama menjelang Idulfitri 1447 Hijriah ketika konsumsi bahan bakar meningkat signifikan. Menurutnya, peningkatan mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi menjelang hari raya biasanya membuat permintaan BBM melonjak tajam. “Mungkin sekarang sudah dua kali lipat lonjakan pembelian. Pertama karena kepanikan akibat isu stok nasional terbatas, kemudian masyarakat membeli lebih banyak dari biasanya untuk persiapan hari raya dua pekan lagi,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pengawasan distribusi BBM agar tidak terjadi penimbunan oleh pihak tertentu yang dapat memperburuk kelangkaan di masyarakat.