Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 15 tahun di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dilaporkan belum mampu membaca dengan lancar dan hingga kini belum lulus dari jenjang pendidikan dasar. Kondisi ini menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar yang memastikan akan mengambil langkah penanganan khusus.
Seorang guru berinisial S mengungkapkan bahwa siswa tersebut tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa, namun mengalami kesulitan dalam memahami materi dasar. Menurutnya, metode pembelajaran umum tidak lagi efektif untuk membantu perkembangan akademik siswa tersebut.
Tantangan Pembelajaran dan Keterlambatan Masuk Sekolah
“Pendekatan biasa sudah tidak efektif. Perlu bimbingan personal untuk menemukan metode belajar yang sesuai, bahkan perlu konsultasi dengan psikolog untuk mendeteksi kemungkinan hambatan seperti disleksia atau faktor psikologis lainnya,” ujar guru S pada Rabu (25/3/2026).
Dari informasi yang dihimpun, siswa tersebut diketahui baru mulai mengenyam pendidikan formal pada usia delapan tahun. Keterlambatan masuk sekolah ini menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan ketertinggalan akademik yang signifikan, terutama dalam kemampuan membaca.
Respons Disdikbud Kukar dan Pentingnya Pendidikan Inklusif
Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto, menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan tanpa diskriminasi usia. Pihaknya berkomitmen untuk mengidentifikasi dan mengatasi akar masalah.
“Sekolah harus mengidentifikasi penyebabnya, baik faktor ekonomi, geografis, maupun kendala personal. Ini juga bagian dari upaya menekan angka Anak Tidak Sekolah,” jelas Pujianto.
Disdikbud juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi psikologis siswa. Perbedaan usia dengan teman sekelas berpotensi memicu rasa minder hingga perundungan di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, lingkungan sekolah harus mendukung.
“Sekolah harus menjadi lingkungan yang inklusif dan ramah anak. Siswa perlu dibantu melalui program inklusi atau bimbingan tambahan,” tegas Pujianto.
Selain intervensi dari sekolah, keterlibatan orang tua melalui program parenting dinilai krusial untuk menjaga motivasi belajar siswa, baik selama proses pembelajaran di sekolah maupun saat berada di rumah. Dengan penanganan yang tepat dan pendampingan berkelanjutan, diharapkan siswa tersebut dapat mengejar ketertinggalan akademik serta menyelesaikan pendidikan dasar sebelum diarahkan menuju jenjang pendidikan lanjutan yang sesuai dengan usianya.
