Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, resmi meluncurkan program adaptasi perubahan iklim di enam desa. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi dampak krisis iklim yang semakin nyata, terutama di sektor pertanian dan wilayah pedesaan.
Bupati Sigi, Moh Rizal Intjenae, menjelaskan bahwa program ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas warga menghadapi ancaman seperti banjir dan kekeringan. “Jadi program ini dirancang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, seperti banjir dan kekeringan yang berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian dan ketahanan pangan masyarakat,” kata Rizal di Dolo, Rabu (20/5/2026).
Fokus Tiga Pilar Utama dan Target Penerima Manfaat
Program adaptasi perubahan iklim ini akan difokuskan pada tiga pilar utama. Pertama, penguatan dukungan kebijakan adaptasi iklim di tingkat daerah. Kedua, penerapan pendekatan Water, Energy, Food (WEF) Nexus di tingkat desa. Ketiga, pengembangan pusat pembelajaran adaptasi perubahan iklim di tingkat kabupaten.
Rizal menambahkan, program ini menargetkan 1.500 penerima manfaat yang tersebar di enam desa. “Sudah ada 1.500 penerima manfaat ditargetkan akan terlibat dalam program ini yang tersebar di enam desa seperti Desa Bangga, Pandere, Pakuli Utara, Sambo, Simoro, dan Wisolo,” ucapnya.
Sinergitas dan Keterbatasan Fiskal Daerah
Kabupaten Sigi dikenal sebagai salah satu daerah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, khususnya ancaman banjir dan kekeringan yang seringkali memengaruhi sektor pertanian masyarakat. Bupati Rizal menekankan pentingnya sinergitas antara pemerintah daerah dengan konsorsium KOLABORASI dalam implementasi program ini.
“Tentunya dengan adanya keterbatasan fiskal daerah, program ini menjadi penyemangat pemerintah daerah untuk tetap mendorong kinerja dan kebijakan iklim di Kabupaten Sigi,” sebut Rizal.
Dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup
Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani, mengapresiasi program di Kabupaten Sigi. Menurutnya, inisiatif ini dapat menjadi contoh praktik baik dalam pelaksanaan adaptasi iklim yang berbasis pada kebutuhan masyarakat lokal.
Franky menjelaskan bahwa pemerintah pusat mendorong pendekatan adaptasi perubahan iklim yang tidak hanya berorientasi pada kebijakan nasional, tetapi juga mampu menjawab persoalan riil di tingkat masyarakat. “Program di Sigi ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat menghadirkan solusi yang konkret dan terukur,” kata Franky.
Ia juga menambahkan bahwa program ini merupakan model pemanfaatan pendanaan iklim internasional yang inklusif dan tepat sasaran. “Tentunya pendekatan yang diterapkan dalam program ini ke depan mampu menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan,” ujarnya.
Program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi dijadwalkan berlangsung hingga April 2028. Franky berharap, “Harapannya program ini mampu memperkuat fondasi kolaborasi multipihak dalam mewujudkan daerah yang tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang.”
Konsorsium KOLABORASI
Konsorsium KOLABORASI merupakan gabungan dari beberapa lembaga yang berfokus pada lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Lembaga-lembaga tersebut meliputi:
- Koaksi Indonesia
- Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL)
- Water Stewardship Indonesia (WSI)
- Earth Innovation Institute (EII)
