PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), melalui anak usahanya PT Semen Tonasa, membuktikan komitmennya dalam menjaga kelestarian sejarah dunia di tengah geliat industri ekstraktif. Perusahaan ini berhasil mengelola operasional tambang beriringan dengan upaya konservasi situs purbakala di kawasan Bulu Sipong 4, Pangkep, Sulawesi Selatan.

Kawasan Bulu Sipong 4 menyimpan seni cadas atau lukisan gua tertua di dunia, yang diperkirakan berusia sekitar 44.000 tahun. Lukisan prasejarah ini menggambarkan perburuan seekor anoa pada dinding Leang. Area seluas 31,64 hektare tersebut telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi sejak tahun 2018, menunjukkan keseriusan perusahaan dalam melindungi warisan budaya.

Peningkatan Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Ekosistem

Langkah strategis SIG dalam konservasi ini membuahkan hasil positif pada ekosistem sekitar. Data terbaru tahun 2025 menunjukkan kenaikan Indeks Keanekaragaman Hayati (Kehati) yang signifikan. Indeks flora naik menjadi 1,54 dari sebelumnya 1,38 pada tahun 2020, sementara indeks fauna melonjak ke angka 2,85.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menjelaskan bahwa penetapan kawasan konservasi ini merupakan bagian integral dari strategi pembangunan berkelanjutan perusahaan. “Kami ingin menunjukkan bahwa industri bisa menjadi pelindung bagi nilai budaya dan lingkungan. Bulu Sipong kini menjadi sarana edukasi sekaligus promosi sejarah peradaban manusia kepada dunia,” ujar Vita Mahreyni dalam keterangan resminya pada Rabu (04/3/2026).

Hingga saat ini, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong telah menjadi habitat bagi 2.898 pohon dari 25 jenis flora, termasuk kayu eboni dan bitti yang langka. Tak hanya itu, kawasan ini juga menjadi rumah bagi 41 jenis satwa liar. Satwa endemik yang dilindungi seperti monyet dare (Macaca maura) dan tarsius terpantau berkembang biak dengan baik di area tersebut.

Pengawasan Ketat dan Kolaborasi Lintas Sektor

Untuk menjaga integritas situs purbakala dari aktivitas tambang di sekitarnya, PT Semen Tonasa menerapkan pengawasan ketat. Perusahaan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX untuk memantau getaran dan kualitas udara secara berkala. Akses menuju situs juga dibatasi dengan pembangunan pagar sepanjang 1.900 meter guna mencegah kerusakan fisik pada cagar budaya.

Vita menambahkan, “Kami juga berkolaborasi dengan Universitas Hasanuddin untuk menyusun Cultural Heritage Management Plan. Dokumen ini menjadi kompas bagi perusahaan dalam mengelola warisan budaya agar tetap lestari secara berkelanjutan.”

Berkat upaya ini, SIG dan Semen Tonasa mendapatkan pengakuan di level internasional. Inisiatif perlindungan situs purbakala ini sempat dipaparkan dalam forum SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts serta Indonesia Geopark Leader Forum sebagai model percontohan pengelolaan area tambang berbasis konservasi.

sumber gambar: jatimnow.com