MAKASSAR – Tim Disaster Victim Identification (DVI) gabungan berhasil menuntaskan proses identifikasi seluruh 10 korban tewas dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500. Pesawat nahas tersebut jatuh di kawasan Gunung Bulusarawang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1) pekan lalu. Seluruh jenazah korban telah dicocokkan dengan manifest penerbangan dan diserahkan kepada pihak keluarga.
Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro, mengumumkan keberhasilan ini dalam konferensi pers di Makassar pada Sabtu (24/1). Ia menjelaskan bahwa tim gabungan telah menyelesaikan identifikasi terhadap 10 korban, yang terdiri dari 7 kru pesawat dan 3 penumpang.
“Dari 11 kantong jenazah yang diterima, 10 pack berhasil teridentifikasi penuh. Satu pack lagi yang berisi tulang telah terbukti merupakan bagian dari salah satu korban yang telah teridentifikasi. Semua hasil identifikasi identik dengan nama-nama dalam manifest,” ujar Kapolda Djuhandhani.
Proses identifikasi krusial ini melibatkan Tim DVI gabungan dari berbagai unsur, termasuk Polri (Pusdokkes Polri dan Polda Sulsel), Basarnas, TNI AU, serta Departemen Forensik dan Mediko-Legal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas).
Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes M. Haris, merinci bahwa identifikasi dilakukan melalui kombinasi metode ilmiah seperti sidik jari, pemeriksaan gigi (odontologi), properti yang melekat pada korban, dan ciri-ciri medis unik pada tubuh jenazah.
Sebelumnya, tiga korban telah lebih dulu diserahkan kepada keluarga. Mereka adalah Florencia Lolita Wibisono (pramugari pesawat), Deden Maulana (pegawai KKP), dan Esther Aprilita B Sianipar. Kini, tujuh jenazah lainnya yang berhasil diidentifikasi secara bersamaan juga telah diserahkan, yaitu:
- Yoga Noval Prakoso (pegawai KKP, Jakarta Timur)
- Hariadi (kru pesawat, Jawa Tengah)
- Muhammad Farhan Gunawan (co-pilot, Luwu Timur, Sulsel)
- Feri Gunawan (pegawai KKP, Bekasi, Jawa Barat)
- Dwi Murdiono (kru pesawat, Bogor, Jawa Barat)
- Restu Adi Pribadi (kru pesawat, Jakarta Timur)
- Andi Dahananto (kapten/pilot, Tangerang, Banten)
Kapusiden Pusdokkes Polri, Brigjen Mashudi, menegaskan validitas metode sidik jari yang digunakan. “Alhamdulillah, pada beberapa jenazah, papil sidik jari masih dapat terbaca. Dalam identifikasi manual, minimal kami menemukan 12 titik kesamaan untuk menyatakan suatu sidik jari identik,” jelasnya.
Sementara itu, Karo Laboratorium Dokkes Pusdokkes Polri, Brigjen Sumy Hastry Purwanti, menjelaskan peran tim forensik dan odontologi. Meskipun beberapa jenazah tidak memungkinkan identifikasi melalui gigi, tim berhasil menggunakan ciri-ciri medis lain seperti tanda lahir, tahi lalat, bekas operasi (misalnya pemasangan ring jantung), hingga postur tubuh, yang dicocokkan dengan data antemortem dari keluarga.
Dengan kepastian identitas seluruh korban, proses penyerahan jenazah kepada keluarga untuk dimakamkan sesuai agama dan kepercayaannya dapat segera dilaksanakan.
“Kami meyakini dengan keilmuan dan metode saintifik yang kami miliki, semua korban telah teridentifikasi. Mudah-mudahan ini bisa memberikan manfaat dan kepastian bagi keluarga yang telah menunggu lama,” tutup Kapolda Djuhandhani.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk patroli udara di atas laut Indonesia, jatuh di kawasan Gunung Bulusarawang pada Sabtu (17/1). Operasi gabungan pencarian, evakuasi, dan identifikasi ditutup setelah tujuh hari, tepat pada Sabtu (24/1).
