Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk segera membuka Selat Hormuz. Desakan ini disampaikan Guterres pada Senin, 28 April 2026, dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB yang membahas keamanan maritim.

Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyampaikan pernyataan Guterres kepada wartawan. “Sekjen Guterres mendesak semua pihak agar membuka Selat Hormuz, kemudian mengizinkan kapal-kapal lewat tanpa pungutan dan tanpa diskriminasi. Biarkan perdagangan pulih dan ekonomi global bernapas, kata beliau,” ujar Dujarric.

Guterres memperingatkan bahwa saat ini pelayaran komersial telah dijadikan pion untuk memberi tekanan kepada pihak lain. Kondisi ini, menurutnya, mengikis kebebasan dan hak maritim yang fundamental.

Lebih lanjut, Dujarric menjelaskan bahwa Sekjen PBB turut memperingatkan dampak serius dari blokade Selat Hormuz. Blokade ini disebut telah mengakibatkan gangguan rantai pasok terburuk sejak pandemi COVID-19 dan konflik di Ukraina.

“Gangguan berkepanjangan berisiko memicu darurat pangan global yang menyebabkan jutaan orang, khususnya di Afrika dan Asia Selatan, terancam kelaparan dan kemiskinan, kata Sekjen Guterres,” tambah Dujarric.

Sebagai konteks, Angkatan Laut AS mulai memblokade lalu lintas pelayaran yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan di Iran di Selat Hormuz sejak 13 April 2026. Selat ini merupakan jalur distribusi vital untuk 20 persen pasokan minyak mentah, produk minyak, dan LNG global.

Washington menyatakan bahwa semua kapal yang bukan milik Iran bebas berlayar di Selat Hormuz selama mereka tidak membayar bea apapun kepada Teheran. Namun, otoritas Iran sendiri belum mengumumkan rencana apapun untuk memberlakukan pungutan melintasi Selat Hormuz, meskipun langkah tersebut sempat dipertimbangkan sebelumnya.