Kuala Lumpur – Mata uang ringgit Malaysia menguat signifikan menjadi 3,99 terhadap dolar AS pada Rabu pagi, 8 April 2026. Penguatan ini didukung oleh sentimen pasar yang membaik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penundaan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu, menyusul pembicaraan dengan para pemimpin Pakistan.

Dikutip dari laporan BERNAMA, pada pukul 8 pagi waktu setempat, ringgit tercatat naik 0,67 persen menjadi 3,9975 terhadap dolar AS. Angka ini membaik dari posisi penutupan perdagangan hari Selasa (7/4) yang berada di level 4,0275 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menjelaskan bahwa keputusan Presiden Trump untuk menyetujui gencatan senjata sementara selama dua minggu merupakan “gencatan senjata bilateral”.

“Situasi ini mungkin memberikan sedikit kelegaan sementara bagi sentimen pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi menyusul guncangan akibat konflik di Iran,” kata Afzanizam Abdul Rashid.

Selain terhadap dolar AS, ringgit juga menunjukkan penguatan terhadap yen Jepang, bergerak menjadi 2,5187 dari sebelumnya 2,5229 pada penutupan Selasa. Namun, ringgit mengalami pelemahan terhadap euro, menjadi 4,6719 dari 4,6566, dan juga jatuh terhadap poundsterling Inggris menjadi 5,3570 dari 5,3425.

Secara umum, ringgit dilaporkan menguat terhadap sebagian besar mata uang negara-negara anggota ASEAN. Nilai tukarnya naik terhadap dolar Singapura menjadi 3,1331 dari 3,1381, menguat terhadap rupiah Indonesia menjadi 233,6 dari 235,4, serta naik terhadap peso Filipina menjadi 6,63 dari 6,68 pada hari sebelumnya. Satu-satunya pelemahan di kawasan ASEAN terjadi terhadap baht Thailand, di mana ringgit melemah menjadi 12,4572 dari 12,3809.