Ribuan umat Katolik di Paroki Santo Fransiskus Xaverius Boawae, Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, khidmat mengikuti Ritual Jalan Salib atau Tablo pada Jumat Agung, 3 April 2026. Drama visualisasi wafatnya Yesus Kristus ini secara khusus membawa pesan kuat tentang perdamaian dan penolakan terhadap perang yang berkecamuk di berbagai belahan dunia.
Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Fransiskus Xaverius Boawae menjadi inisiator di balik pementasan Tablo yang terbagi dalam 14 babak atau perhentian ini. Mereka tergerak oleh konflik yang terjadi di Timur Tengah, Eropa, dan wilayah lain, yang dampaknya seringkali paling dirasakan oleh kelompok rentan.
Pesan Damai dari Lapangan Pancasila Boawae
“Kita lihat di medsos soal perang dan anak serta perempuan yang biasanya paling terdampak, lewat jalan salib ini kita bawa pesan damai anti perang,” ujar Felix Dhay Wea, Ketua OMK Paroki Santo Fransiskus Boawae, menjelaskan motivasi di balik pementasan tersebut.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Tablo kali ini disaksikan oleh ribuan umat yang memadati pinggir Lapangan Pancasila Boawae. Pementasan drama penyaliban Yesus ini diperankan oleh sejumlah anak muda yang penuh penghayatan, mengambil peran sebagai Yesus, para algojo atau serdadu, serta para ibu termasuk Maria, ibu Yesus, yang digambarkan menangis tersedu-sedu.
Drama dimulai dengan adegan Yesus berdoa di taman Getsemani, berlanjut hingga penyerahan-Nya kepada Raja Pilatus. Penghayatan para pemeran berhasil membuat umat yang hadir turut merasakan kesedihan mendalam atas sengsara yang dialami Yesus.
Kreativitas OMK dalam Simbol Anti Perang
Aspek menarik lainnya adalah kostum para serdadu yang dibuat dari barang bekas. Bahan-bahan ini dikumpulkan oleh para OMK selama sebulan penuh, kemudian dirancang menjadi pakaian dan poster-poster simbolis. Poster-poster tersebut menampilkan gambar tank, senjata AK47, dan rudal yang diberi tanda silang, merepresentasikan penolakan terhadap kekerasan.
“Kami ambil barang bekas agar bisa digunakan seperti pamitan serdadu ini,” ungkap Cilo, salah satu desainer dan pendamping para OMK, menyoroti upaya kreatif mereka dalam menyampaikan pesan.
Meskipun berlangsung lebih dari tiga jam, dimulai sejak pukul 09.00 pagi, umat dari berbagai usia, mulai dari orang tua hingga anak-anak, mengikuti Tablo dengan penuh khidmat. Momen haru terlihat jelas saat adegan para perempuan dan Maria, ibu Yesus, menangis di bawah kaki salib.
Refleksi Konflik dan Kekerasan
Secara keseluruhan, drama ini membawa pesan mendalam bahwa perang selalu berdampak paling parah pada kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak. Felix Dhay Wea menambahkan, “Tablo kali ini mengangkat tema siapa yang mengangkat pedang akan binasa oleh pedang siapa memakai pedang akan binasa oleh pedang.”
Menurut Felix, kekerasan tidak akan pernah melahirkan kebenaran. Ia menegaskan bahwa sumber konflik dan peperangan bukan berasal dari faktor eksternal, melainkan dari dalam diri manusia itu sendiri, yaitu hawa nafsu dan ambisi.
Setelah mengikuti Ritual Jalan Salib, umat Paroki Santo Fransiskus Boawae melanjutkan ibadah dengan Misa Jumat Agung dan ritual cium salib pada pukul 15.00 waktu setempat. Rangkaian Pekan Suci akan terus berlanjut dengan Tiga Hari Kudus, dimulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan diakhiri dengan Minggu Paskah sebagai peringatan kebangkitan Yesus setelah wafat disalib.
