Pernyataan Prabowo Subianto yang mempersilakan “orang pintar” untuk “kabur saja, mungkin ke Yaman” bukan sekadar seloroh politik. Ucapan tersebut, menurut akademisi Unitomo Surabaya Ulul Albab, mencerminkan retorika kekuasaan yang mengalami distorsi, bergeser dari merangkul menjadi menyindir, serta dari memotivasi menjadi mengusir secara simbolik.

Dalam politik, kata-kata memiliki peran krusial sebagai penentu arah. Arah yang tersirat dari pernyataan tersebut dinilai problematik dan berpotensi memicu krisis etika kepemimpinan serta fenomena brain drain di Indonesia.

Kegagalan Memahami Psikologi Generasi Produktif

Ulul Albab menyoroti bahwa pernyataan tersebut menunjukkan kegagalan dalam memahami psikologi generasi produktif. Fenomena “kabur aja dulu” bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap bangsa, melainkan ekspresi kegelisahan atas stagnasi struktural. Hal ini ditandai oleh lapangan kerja yang tidak sebanding dengan kualitas pendidikan, tersendatnya meritokrasi, serta ketidakpastian masa depan. Alih-alih dibaca sebagai kritik sosial, fenomena tersebut justru dipelintir menjadi sikap yang dianggap tidak nasionalis.

Pergeseran Etika Kepemimpinan

Retorika “silakan kabur” juga memperlihatkan pergeseran etika kepemimpinan. Seorang presiden semestinya menjadi pusat harapan bagi rakyatnya, bukan produsen sinisme. Kepemimpinan modern dituntut untuk membangun sense of belonging, bukan menciptakan jarak psikologis antara negara dan warga, terutama kelompok terdidik yang merupakan modal utama pembangunan bangsa.

Potensi Memperkuat Brain Drain

Dalam perspektif kebijakan publik, pernyataan semacam itu berpotensi memperkuat fenomena brain drain. Ketika negara tidak memberikan rasa dihargai, talenta terbaik akan mencari ekosistem yang lebih apresiatif. Sejarah global menunjukkan bahwa migrasi intelektual kerap dipicu bukan semata faktor ekonomi, tetapi juga minimnya pengakuan dan ruang untuk berkembang. Negara-negara seperti India dan Tiongkok telah belajar dari pengalaman tersebut, sementara Indonesia berisiko mengulang kesalahan yang sama jika abai.

Penyebutan Negara Tujuan yang Tidak Sensitif

Penyebutan negara tujuan seperti “Yaman” sebagai simbol ironi juga menimbulkan persoalan. Cara itu mereduksi kompleksitas geopolitik menjadi bahan retorika. Dalam komunikasi publik, simplifikasi semacam ini dinilai tidak sensitif dan berpotensi menurunkan kualitas diskursus kebangsaan.

Kritik terhadap pesimisme publik memang penting, namun kritik yang baik tidak menafikan kegelisahan, melainkan mengolahnya menjadi energi perubahan. Retorika yang meremehkan justru memperlebar jurang ketidakpercayaan. Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang belum tersedia adalah ekosistem yang membuat mereka ingin tinggal, berkarya, dan berkontribusi.

Persoalannya bukan pada mereka yang ingin “kabur”, melainkan pada kondisi yang membuat pilihan tersebut terasa lebih rasional daripada bertahan. Kepemimpinan sejati tidak mengatakan “silakan pergi”, tetapi bertanya: mengapa mereka ingin pergi, dan apa yang harus diperbaiki agar mereka tetap tinggal? Jika pertanyaan itu tidak dijawab dengan serius, suatu saat kita tidak perlu lagi mempersilakan siapa pun untuk pergi. Mereka akan melangkah dengan sendirinya, dan ketika hal itu terjadi, penyesalan tak lagi berguna.