Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Jamaluddin Jompa, menegaskan komitmen kuat perguruan tinggi tersebut dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Unhas berambisi menjadi pusat unggulan MBG di kawasan timur Indonesia, sekaligus berupaya meningkatkan gizi nasional dan memperkuat ekonomi lokal.

Pernyataan tersebut disampaikan Jamaluddin saat membuka kegiatan “BGN Goes to Campus” yang diselenggarakan di Auditorium Prof. A. Amiruddin Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin pada Rabu, 06 Mei 2026. Ia menekankan bahwa program MBG bukan sekadar inisiatif sektoral, melainkan agenda besar yang harus melibatkan seluruh disiplin ilmu di kampus.

Unhas Dorong Keterlibatan Lintas Fakultas dalam MBG

“Bagi Unhas, MBG itu bukan hanya program satu fakultas, tetapi seluruh fakultas harus terlibat,” ujar Jamaluddin. Menurutnya, MBG merupakan program strategis yang sangat potensial untuk dimanfaatkan oleh perguruan tinggi.

“MBG adalah program yang dahsyat. Sayang sekali kalau kampus hanya menjadi penonton,” tambahnya. Unhas, lanjut Jamaluddin, telah menyiapkan berbagai dukungan konkret, mulai dari produksi bahan pangan hingga pengembangan inovasi.

Fakultas Peternakan Unhas, misalnya, memiliki kapasitas produksi hingga 70 ribu ayam per bulan. Kampus ini juga berhasil mengembangkan “ayam alope”, yaitu galur baru ayam kampung unggul hasil inovasi Unhas yang beradaptasi tinggi di Sulawesi Selatan. Selain itu, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan siap memasok kebutuhan ikan, dan kampus juga mengembangkan penyedap rasa non-MSG sebagai bagian dari inovasi pangan sehat.

“Seluruh proses dapur SPPG akan kami jadikan percontohan terbaik. Kajian-kajian di Unhas diarahkan agar seluruh bahan MBG bisa diproduksi dari kampus sendiri,” kata Jamaluddin. Ia juga menegaskan prinsip nasionalisme dengan mengupayakan semua produk, termasuk ompreng hingga kendaraan operasional, berasal dari buatan lokal.

“Jangan sampai untuk kebutuhan ayam saja kita masih impor dengan biaya sangat besar,” tegasnya, menyoroti potensi biodiversitas Indonesia yang melimpah.

BGN Ajak Kampus Jadi Laboratorium Nyata

Senada, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S Deyang, menyebut program MBG sebagai ruang pembelajaran nyata bagi dunia kampus. “MBG adalah laboratorium bagi kampus. Semua fakultas bisa terlibat dan mengambil peran sesuai bidangnya,” katanya.

Nanik menjelaskan bahwa program ini lahir dari kepedulian terhadap masih banyaknya masyarakat yang belum mendapatkan akses pangan layak. “Masih banyak saudara kita yang belum bisa makan dengan baik. Ini yang menjadi semangat utama program MBG,” ujarnya.

Melalui program ini, BGN membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk memberikan masukan agar pelaksanaan MBG berjalan lebih efektif. Salah satu kontribusi yang diharapkan adalah keterlibatan mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN), khususnya dari bidang kesehatan.

Nanik berharap Unhas dapat menjadi pelopor bagi kampus lain dalam mengoptimalkan peran MBG. “Kami berharap Unhas memelopori kampus-kampus lain agar MBG benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya. Ia juga mendorong keterlibatan lintas sektor, termasuk BUMN melalui program CSR untuk pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Selain itu, Nanik mengapresiasi kesiapan fasilitas dan sumber daya Unhas, termasuk laboratorium yang dapat membantu proses investigasi keamanan pangan. “Kami bahkan berharap laboratorium Unhas bisa membantu pengecekan jika terjadi kejadian menonjol keamanan pangan,” ujarnya.

Dalam paparannya, Nanik juga menyoroti dampak ekonomi dari program MBG yang mulai mendorong tumbuhnya industri pendukung, seperti peralatan rumah tangga dan rantai pasok pangan. “Uang bergerak di masyarakat. Ini efek ekonomi yang sangat penting,” katanya.

Namun demikian, ia mengingatkan masih adanya sejumlah tantangan, seperti keterbatasan pasokan buah dan dominasi industri besar dalam penyediaan ayam. Oleh karena itu, ia mendorong Unhas untuk memperkuat sektor peternakan dan pengembangan bahan baku lokal. “Kami berharap Unhas menjadi pusat pengembangan produk bahan baku MBG,” ujar Nanik.

Ia juga menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam mendukung program tersebut. “Kebutuhan SDM sangat besar, mulai dari pengawas gizi, akuntan, hingga ahli sanitasi lingkungan,” pungkasnya.

Kegiatan ini menjadi momentum penguatan sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam memastikan keberhasilan program MBG sebagai upaya strategis peningkatan kualitas gizi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.