Ratusan warga Kota Tangerang memadati bantaran Sungai Cisadane pada Senin (9/2/2026) malam. Mereka berbondong-bondong menangkap ikan dalam jumlah besar yang terlihat lemah dan mudah ditangkap, fenomena yang diduga kuat akibat pencemaran limbah.

Pencemaran ini disinyalir berasal dari peristiwa kebakaran hebat di gudang distributor insektisida di kawasan Pergudangan Taman Tekno, Setu, Tangerang Selatan, pada Minggu (8/2/2026) dini hari. Api yang melalap bahan-bahan kimia beracun di gudang tersebut diduga menjadi sumber malapetaka bagi ekosistem sungai.

Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Tangerang Selatan, Omay Komarudin, mengonfirmasi adanya pencemaran tersebut. “Pencemaran dari pembakaran bahan kimia itu dari botol pecah akhirnya mengalir ke saluran drainase hingga bermuara ke sungai. Yang mengakibatkan ikan pada mati atau lemah,” jelas Omay, seperti dikutip dari akun Instagram @tangerangupdate.

Air dari lokasi pabrik yang terbakar mengalir menuju Kali Jaletreng, kemudian bermuara ke Sungai Cisadane. Aliran ini membawa serta sisa-sisa bahan kimia beracun yang diduga kuat menyebabkan ikan-ikan mengalami keracunan mendadak. Akibatnya, banyak ikan tampak ‘mabuk’, mengambang, atau lemah, sehingga sangat mudah ditangkap oleh warga.

Puluhan warga terlihat turun langsung ke sungai, baik berjalan di tepian maupun menggunakan perahu, untuk memanen ikan-ikan yang mengambang di permukaan. Mereka menggunakan berbagai alat, mulai dari jala, pancing, hingga tangan kosong, untuk mengumpulkan ikan yang mati atau sekarat. Bahkan, para pengendara motor yang melintas di jembatan banyak yang berhenti sejenak untuk menyaksikan pemandangan tersebut.

Menyusul fenomena panen ikan yang diduga terpapar pestisida ini, warga diimbau keras untuk tidak mengonsumsi ikan-ikan hasil tangkapan dari aliran sungai yang terdampak pencemaran. Peringatan ini disampaikan mengingat potensi bahaya kesehatan akibat konsumsi ikan yang terkontaminasi bahan kimia beracun.