Wakil Ketua Komisi VII DPR RI sekaligus Inisiator Saraswati Fellowship, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, menekankan peran krusial perempuan dalam berbagai lini kehidupan. Ia menegaskan bahwa kebangkitan perempuan akan turut mendorong kemajuan bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikan Sara, sapaan akrabnya, saat menutup sambutannya pada wisuda Saraswati Fellowship Batch 1 yang berlangsung di Museum Nasional, Jakarta, Minggu (22/2/2026). Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pesan inspiratif dalam bahasa Inggris.

“Karena ketika seorang perempuan menemukan jati dirinya, ia mengubah lebih dari sekadar hidupnya, ia mengubah generasi. Ketika perempuan bangkit, bangsa pun bangkit,” ucap Rahayu Saraswati.

Menurut Sara, Indonesia memiliki banyak perempuan dengan kapasitas mumpuni di bidangnya masing-masing. Namun, ia menyoroti bahwa mereka belum tentu memiliki kesiapan dalam kepemimpinan, termasuk kemampuan untuk menavigasi jenjang karier.

“Bahkan kadang, (perempuan) enggak punya petanya bagaimana untuk bisa mencapai the highest level of leadership (puncak kepemimpinan),” tuturnya.

Sara juga menyoroti keterbatasan akses perempuan untuk berkontribusi lebih aktif dalam kepemimpinan. Padahal, ia menilai, perlu lebih banyak perempuan di meja-meja pembuat kebijakan. Ia menganalogikan bahwa perempuan tidak cukup hanya hadir dalam suatu ruangan, tetapi harus ikut di meja pengambilan keputusan.

“Kita tidak bisa mengambil keputusan atau membuat kebijakan yang bicara tentang equity and equality (keadilan dan kesetaraan), kalau tidak semua suara terwakilkan di meja itu,” ujarnya.

Berkaca dari pengalamannya sebagai legislator di parlemen, Sara mengaku sangat terbantu dengan peran perempuan di bidang-bidang spesifik. Kehadiran perempuan yang memahami isu-isu tertentu dinilai sangat penting.

“Kalau saya mau bicara dengan mereka yang ada di Komisi IV yang kaitannya dengan agriculture (agrikultur), it helps (itu membantu) kalau ada perempuan-perempuan yang paham apa yang dilalui oleh petani perempuan. Kalau saya bicara dengan rekan-rekan di Komisi IX, it helps kalau ada dokter-dokter perempuan yang duduk di situ,” tuturnya.

Lebih lanjut, Sara meyakini bahwa keadilan dan kesetaraan gender akan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Ia bahkan menyebut potensi besar yang bisa didorong dari aspek ini.

“Satu hal yang sebenarnya dibutuhkan kalau kita bicara 8 persen pertumbuhan ekonomi, hanya dari yang namanya gender equality and equity saja itu bisa drive (mendorong) 8 persen karena majority of those driving the economy on the grass root level (mayoritas penggerak perekonomian di tingkat akar rumput) itu perempuan,” ucapnya.

Selain itu, ia turut menekankan pentingnya ketangguhan karakter, khususnya dalam menghadapi fenomena sindrom impostor di kalangan perempuan. Sindrom ini membuat wanita bertalenta meragukan kemampuan dirinya sendiri.

“Kadang-kadang kita, perempuan-perempuan, hesitation to lead (ragu untuk memimpin). Sudah takut saja duluan, impostor syndrome. ‘Layak enggak, ya, ada di ruangan ini?’ … Your talent will get you there (bakatmu akan membawamu ke sana), tapi kalau you don’t have the character to withstand the challenges that you face, you will fracture (jika kamu tidak memiliki karakter yang cukup kuat untuk menghadapi tantangan yang kamu hadapi, kamu akan runtuh),” katanya.

Meskipun akses dan representasi perempuan belakangan ini telah menunjukkan perkembangan positif, seperti mayoritas pendaftar perguruan tinggi adalah perempuan, Sara menilai masih ada persoalan. Menurutnya, kurangnya dukungan terhadap perempuan dapat membuat talenta mereka memudar atau tersendat.

Untuk mengatasi hal tersebut, Rahayu Saraswati berkolaborasi dengan berbagai pihak menghadirkan Saraswati Fellowship. Program ini selama tiga bulan terakhir telah membimbing 30 perempuan dengan beragam latar belakang dari berbagai daerah di Indonesia. Para penerima fellowship diharapkan dapat lebih aktif terlibat dalam kepemimpinan di bidangnya masing-masing.