Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih mempertahankan status Level II (Waspada) untuk Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat. Status ini telah berlaku sejak 10 Maret 2026 menyusul tingginya aktivitas vulkanik, terutama kegempaan dalam yang fluktuatif.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Tambora, Syatrin Kharis, mengungkapkan bahwa meskipun ada tren penurunan dalam beberapa hari terakhir, kegempaan vulkanik dalam masih terekam dengan intensitas yang signifikan. “Aktivitas tektonik dalam sepekan terakhir tercatat antara 20 hingga 27 kali, dan laporan terbaru hari ini menurun menjadi sekitar 17 kali kejadian,” ujarnya di Dompu, Kamis (26/3/2026).
Secara visual maupun instrumental, kondisi gunung api raksasa ini masih relatif normal. Hingga saat ini, belum teramati adanya hembusan asap kawah maupun indikasi aktivitas magmatik di dua kerucut kecil di dasar kaldera, yakni Doro Afi Toi dan Doro Afi Bou.
Peningkatan Aktivitas Pekan Lalu dan Potensi Bahaya
Syatrin menjelaskan, aktivitas sempat meningkat signifikan pada pekan lalu, dengan kegempaan vulkanik dalam mencapai 29 kali kejadian dalam satu hari pada kedalaman sekitar dua kilometer di bawah permukaan. Kegempaan vulkanik dalam dapat menjadi indikator awal pergerakan magma apabila diikuti peningkatan gempa vulkanik dangkal.
Namun, Syatrin memastikan bahwa hingga kini belum terdeteksi adanya aktivitas tersebut. “Kami belum melihat indikasi ke arah aktivitas vulkanik atas dan diharapkan kondisi tetap stabil,” katanya.
Selain potensi erupsi, ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah akumulasi gas karbon dioksida (CO2) di area kawah. Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau, namun dapat menyebabkan hilangnya kesadaran hingga kematian dalam waktu singkat apabila terhirup dalam konsentrasi tinggi.
Data Pengamatan dan Rekomendasi Mitigasi
Berdasarkan data pengamatan periode 25 Maret 2026 pukul 00.00–24.00 WITA, kondisi meteorologi di kawasan Tambora didominasi cuaca berawan hingga mendung dengan angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur. Suhu udara berkisar 24-33 derajat Celsius dengan kelembaban 67-98 persen. Secara visual, gunung teramati jelas hingga tertutup kabut 0–II dan tidak teramati adanya asap kawah.
Sementara itu, kegempaan yang tercatat meliputi:
- Satu kejadian guguran dengan amplitudo 10 mm dan durasi 65 detik.
- Tujuh belas kejadian gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 3-45 mm dan durasi 11-21 detik.
- Enam kejadian tektonik lokal.
- Lima kejadian tektonik jauh.
“Pengamatan aktivitas gunung dilakukan secara intensif oleh empat petugas PGA yang berjaga selama 24 jam secara bergantian, dengan pemantauan meliputi aspek kegempaan, visual, serta parameter pendukung lainnya,” papar Syatrin.
Sebagai langkah mitigasi, masyarakat dan wisatawan direkomendasikan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Tambora. Selain itu, tidak diperbolehkan turun ke dasar kaldera, mendekati kerucut parasit Doro Afi Toi dan Doro Api Bou, maupun mendekati lubang-lubang emisi gas di dasar kaldera.
“Kondisi kegempaan vulkanik dalam masih berlangsung, status aktivitas Gunung Tambora dinilai belum memenuhi syarat untuk diturunkan ke Level I (Normal). Untuk itu, masyarakat diminta tetap waspada dan mematuhi seluruh rekomendasi resmi dari otoritas terkait guna menghindari risiko bencana,” pungkas Syatrin.
Diketahui, Kaldera Tambora yang memiliki kedalaman sekitar 1.300 meter disebut menjadi cekungan alami yang berfungsi menahan material vulkanik. Namun demikian, potensi bahaya tetap ada, termasuk risiko paparan gas beracun dan guguran batuan pada dinding kaldera.
