PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan pasokan pupuk nasional tetap terjaga di tengah gejolak geopolitik yang melanda kawasan Timur Tengah. Perusahaan pelat merah ini mengklaim memiliki kapasitas produksi dan cadangan bahan baku yang memadai untuk menjamin ketersediaan pupuk bagi petani.

Kapasitas Produksi Urea Penuhi Kebutuhan Domestik

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menegaskan komitmen tersebut. “Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman sehingga petani dapat terus menanam, tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk,” kata Yehezkiel dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).

Yehezkiel menjelaskan, Pupuk Indonesia Grup memiliki kapasitas produksi mencapai 14,5 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk. Khusus untuk pupuk urea, kapasitas produksi perusahaan bahkan mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik.

Secara fundamental, produksi urea nasional juga memiliki tingkat kemandirian yang terjaga. Bahan baku utamanya, gas bumi, dapat dipenuhi dari domestik dengan pasokan dan harga yang telah diatur oleh Pemerintah. Oleh karena itu, eskalasi konflik di Selat Hormuz tidak berdampak langsung terhadap pasokan pupuk urea nasional.

“Pupuk Indonesia merupakan produsen urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Dengan kapasitas produksi yang kuat tersebut, kami memiliki kemampuan untuk menjaga pasokan pupuk tetap optimal bagi petani Indonesia,” ujar Yehezkiel.

Diversifikasi Sumber Bahan Baku Strategis

Selain kapasitas produksi, Pupuk Indonesia juga memperkuat ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi sumber bahan baku strategis yang masih diimpor. Beberapa bahan baku pupuk memang tidak tersedia secara alami di Indonesia, seperti fosfat (P) dan kalium (K), yang merupakan komponen penting dalam produksi pupuk NPK.

Saat ini, pasokan fosfat (P) diperoleh dari negara-negara di kawasan Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sementara itu, pasokan kalium (K) didatangkan dari Kanada dan Laos, yang berada di luar wilayah konflik Timur Tengah. Langkah ini bertujuan meminimalkan risiko gangguan pasokan.

Adapun bahan baku pupuk lainnya yang berpotensi terdampak langsung oleh eskalasi konflik di Timur Tengah adalah sulfur (S), yang berasal dari Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Namun, Pupuk Indonesia juga memiliki sumber pasokan sulfur (S) dari negara lain, seperti Kanada, sehingga potensi gangguan pasokan dapat diantisipasi.

Selain diversifikasi, Pupuk Indonesia juga memperkuat manajemen stok bahan baku. Ketersediaan fosfat, kalium, dan sulfur saat ini berada pada tingkat yang mencukupi untuk mendukung produksi. Penguatan manajemen stok ini juga menjadi langkah antisipatif terhadap potensi kenaikan biaya logistik akibat meningkatnya harga minyak dunia.

Didukung kapasitas produksi yang kuat, diversifikasi sumber bahan baku, serta manajemen stok yang andal, Pupuk Indonesia optimistis dapat menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional.