Presiden Kehormatan Bayern Munchen, Uli Hoeneb, secara tegas menolak kemungkinan transfer Michael Olise ke Liverpool pada bursa musim panas mendatang. Tak hanya itu, Hoeneb juga melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan belanja Liverpool yang dinilainya jor-joran hingga €500 juta namun berujung pada performa yang mengecewakan di musim ini.

Spekulasi mengenai kepindahan Olise ke Anfield mencuat setelah penyerang andalan Mohamed Salah mengumumkan keputusannya untuk hengkang dari Liverpool di akhir musim. Berbagai laporan dari Jerman menyebutkan bahwa Liverpool siap mengajukan tawaran fantastis senilai €200 juta, atau sekitar Rp3,4 triliun, demi memboyong pemain sayap berusia 24 tahun tersebut. Angka ini bahkan disebut-sebut akan memecahkan rekor transfer di Inggris.

Namun, Hoeneb dengan tegas menepis rumor tersebut. Ia menyatakan bahwa Bayern Munchen tidak akan menjual Michael Olise, berapa pun besaran tawaran yang diajukan oleh klub mana pun. Menurutnya, Olise adalah bagian integral dari rencana jangka panjang klub dan melepasnya akan mengorbankan ambisi olahraga tim.

Pernyataan Hoeneb ini senada dengan yang disampaikan oleh Direktur Olahraga Bayern, Max Eberl. Eberl menegaskan bahwa klub Bavaria itu “santai” mengenai masa depan Olise. “Dia adalah pemain FC Bayern dan memiliki semua kesempatan di sini yang bisa diharapkan oleh pemain top,” ujar Eberl kepada Bild. “Michael memiliki kontrak dengan kami hingga 2029, tanpa klausul rilis. Kami santai.”

CEO Bayern, Jan-Christian Dreesen, juga mengungkapkan keyakinannya bahwa klub dapat mempertahankan Olise. “Tidak peduli klub mana yang mencoba membujuknya pergi: Siapa pun yang bermain untuk FC Bayern tahu apa yang mereka miliki di FC Bayern,” jelas Dreesen.

Sejak bergabung dari Crystal Palace pada Juli 2024, Olise telah menjadi pemain kunci bagi Bayern. Ia mencatatkan 36 gol dan 50 assist dalam 94 penampilan di semua kompetisi. Musim ini, pemain asal Prancis itu bahkan telah berkontribusi langsung dalam 43 gol (16 gol dan 27 assist) dari 39 penampilannya.

Kritik Pedas Hoeneb Terhadap Belanja Liverpool

Di samping penolakan transfer Olise, Uli Hoeneb juga tak melewatkan kesempatan untuk mengkritik strategi transfer Liverpool. Ia menyoroti pengeluaran besar klub asal Inggris tersebut yang dinilai tidak sebanding dengan hasil yang diraih di lapangan.

“Liverpool telah menghabiskan €500 juta tahun ini dan menjalani musim yang sangat buruk,” ujar Hoeneb kepada DPA. “Kami tidak akan berkontribusi agar mereka bermain lebih baik tahun depan.”

Hoeneb menambahkan bahwa filosofi Liverpool yang mendatangkan banyak bintang tanpa keseimbangan tim yang tepat adalah akar masalahnya. “Menurut saya, itu karena Anda hanya memiliki superstar. Anda hanya punya bos dan tidak ada pekerja,” sindirnya. Ia bahkan menggambarkan situasi di Liverpool sebagai kondisi di mana para pemain bintang terlalu egois dan tidak mau bekerja sama. “Saya selalu berkata: di Liverpool, mereka akan segera harus bermain dengan lima bola karena para bintang tidak mau menyerahkan satu bola pun.”

Tantangan Liverpool Mencari Pengganti Mohamed Salah

Dengan kepergian Mohamed Salah yang telah dikonfirmasi, Liverpool memang dihadapkan pada tantangan besar untuk mencari pengganti sepadan. Olise sempat disebut-sebut sebagai kandidat ideal berkat performanya yang impresif di Bundesliga.

Namun, penolakan tegas dari Bayern Munchen dan kritik pedas dari Hoeneb menunjukkan betapa sulitnya Liverpool untuk mendapatkan target utama mereka di bursa transfer kali ini. Selain Olise, beberapa nama lain seperti Yan Diomande dari RB Leipzig dan Anthony Gordon dari Newcastle United juga dikaitkan dengan Liverpool.

Dengan situasi keuangan dan performa tim saat ini, Liverpool perlu berhati-hati dalam setiap langkah transfer mereka agar tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dikritik oleh Hoeneb. Keputusan Liverpool untuk menggelontorkan dana besar dalam beberapa musim terakhir, termasuk sekitar £450 juta pada musim panas lalu untuk pemain seperti Alexander Isak, Hugo Ekitike, dan Florian Wirtz, belum memberikan hasil yang memuaskan. Musim ini, Liverpool menghadapi perjuangan berat untuk mengamankan kualifikasi Liga Champions.