DENPASAR – Psikiater dari Rumah Sakit Jiwa Bangli, Bali, dr Made Wedastra SpKJ (K) menegaskan bahwa kedekatan hubungan antara orang tua dan anak memegang peran vital dalam mendukung implementasi program pembatasan media sosial pada anak. Ia menekankan bahwa pendekatan ini sangat penting untuk memahami dan memvalidasi emosi anak.

Peran Orang Tua dalam Pembatasan Media Sosial

“Dalam pembatasan media sosial itu perlu peran orang tua dalam memahami anak, mengerti emosi atau memvalidasi emosi mereka,” kata dr Made Wedastra di Denpasar, Sabtu (04/04/2026).

Dokter lulusan Universitas Udayana (Unud) Denpasar ini menjelaskan, hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak menjadi fondasi penting dalam memberikan pemahaman mengenai pembatasan penggunaan media sosial. Tanpa komunikasi yang baik dan landasan emosional yang kuat, pembatasan yang dilakukan secara langsung berpotensi memicu anak tumbuh menjadi pribadi yang pemberontak dan pembangkang.

Made, yang juga konsultan jiwa anak dan remaja dari Universitas Airlangga Surabaya, mengingatkan bahwa anak-anak generasi Z dan Alfa lahir di era digital. Oleh karena itu, hampir seluruh aspek kehidupan mereka tidak terlepas dari digitalisasi.

“Pembatasan langsung tanpa orang tua ikut mendampingi dan menjelaskan kepada anak, dampaknya anak menjadi pemarah, emosional, kurang memahami teknologi, dan percaya diri berkurang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa penggunaan gawai yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan serius pada perkembangan sosial emosional anak.

Panduan Penggunaan Gawai Berdasarkan Usia

  • Usia di bawah dua tahun: Dianjurkan untuk tidak menyentuh gawai sama sekali. Pada usia ini, otak anak sedang berkembang pesat, terutama bagian yang mengatur fungsi emosi dan sosial.
  • Usia 2-6 tahun: Penggunaan gawai dibatasi kurang dari satu jam sehari dan wajib dengan pendampingan orang tua.
  • Usia di atas enam tahun: Penggunaan gawai maksimal dua jam sehari, tetap dengan pendampingan orang tua.

Made menambahkan, usia di bawah 12 tahun merupakan periode krusial untuk perkembangan sosial dan emosi. Stimulasi berlebihan dari gawai akan memaksa anak untuk terlalu fokus pada media sosial yang algoritmanya dirancang untuk terus menarik perhatian mereka.

“Hal itu membuat anak tidak mampu mengatur emosi atau regulasi emosi sehingga anak akan menjadi mudah marah, mengalami gangguan perilaku, membangkang, dan bermasalah dalam konsentrasi,” imbuhnya.

Selain itu, sinar biru yang dipancarkan dari gawai juga berdampak negatif pada kesehatan mata dan menekan fungsi otak dalam mengatur tidur, yang pada akhirnya menyebabkan anak sulit tidur.

Alternatif Aktivitas untuk Mencegah Kecanduan Gawai

Untuk mencegah kecanduan gawai dan media sosial, dr. Wedastra menyarankan orang tua untuk mengajak anak-anak melakukan berbagai aktivitas sesuai usia mereka. Beberapa rekomendasi meliputi:

  • Mengasah kemampuan motorik, seperti mendampingi anak bermain lego.
  • Melakukan olahraga ringan, misalnya bermain bola dengan anak usia di bawah lima tahun.
  • Membaca buku bersama.
  • Melukis.
  • Mengenal tanaman atau berkebun.

Aktivitas-aktivitas positif ini diharapkan dapat menjadi alternatif yang efektif untuk mengurangi paparan gawai dan mendukung perkembangan anak secara holistik.