Peta persaingan pendidikan kedokteran di Surabaya kian dinamis. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) secara resmi melantik pakar obstetri dan ginekologi, Prof. Budi Santoso, sebagai Dekan Fakultas Kedokteran (FK) pada Jumat (13/3/2026).
Dokter yang akrab disapa Prof Bus ini kini memikul tanggung jawab besar. Di bawah kepemimpinannya, FK Unusa telah mengantongi kepercayaan untuk mengelola dua Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), yakni Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) serta Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi.
Pria kelahiran Banyuwangi tahun 1963 ini memilih jalur kolaborasi ketimbang sekadar berkompetisi di tengah menjamurnya fakultas kedokteran baru. Ia menyadari adanya jurang lebar antara institusi medis lama dan baru, terutama pada aspek kualitas pendidikan.
Namun, Prof Bus tetap optimistis mengingat hasil Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) Unusa tercatat sebagai salah satu yang terbaik. “Kami harus mempertahankan dan meningkatkan capaian ini. Bicara kualitas hasil akhir (outcome) tentu harus kita mulai dari tahap awal, yaitu proses seleksi masuk atau input-nya,” ujar Prof Bus usai prosesi pelantikan.
Sebagai langkah konkret pertama, ia mencanangkan pengetatan standar batas minimal kemampuan akademik bagi calon mahasiswa. Baginya, hasil UKMPPD merupakan parameter mutlak yang tidak bisa ditawar dalam mencetak dokter profesional.
Demi mengejar ketertinggalan dan mendongkrak kualitas, Prof Bus juga akan mendorong para dosen meningkatkan level pendidikan mereka. Unusa telah mengamankan komitmen dari dua mitra internasional, yakni China Medical University dan Oita University Jepang, untuk memfasilitasi program doktor (PhD) bagi tenaga pendidik FK Unusa.
“Manajemen yang sudah berjalan baik tetap kami pertahankan, sementara prioritas utama adalah mendongkrak kualitas secara menyeluruh,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menitipkan tiga mandat besar bagi kepemimpinan baru ini. Pertama, transparansi tata kelola demi menjaga kepercayaan publik. Kedua, akselerasi akreditasi internasional agar lulusan Unusa memiliki daya saing di luar negeri. Ketiga, Rektor mengingatkan bahwa FK harus menjadi pusat inovasi yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat melalui riset dan pengabdian.
“Kami tidak hanya mencetak ahli teknis medis. Dokter lulusan Unusa wajib memiliki integritas, empati, dan nilai kemanusiaan yang kuat saat melayani pasien nanti,” pesan Prof Tri Yogi.

