Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menantang pihak-pihak yang tidak menyukai kepemimpinannya untuk berkompetisi secara demokratis pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat bertaklimat dalam Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 2026 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
“Jadi begini ya, kalau saudara tidak suka dengan 2-3 orang, jangan merusak seluruh bangsa. Kalau tidak suka sama Prabowo, silakan, 2029 bertarung,” tegas Presiden Prabowo di hadapan peserta Rakornas.
Capaian Program Makan Bergizi Gratis
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga menjelaskan capaian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilainya telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Program MBG saat ini disebut telah menjangkau sekitar 60 juta penerima manfaat.
Pemerintah menargetkan jumlah penerima manfaat akan meningkat menjadi 82 juta orang paling lambat pada Desember 2026. Hingga kini, sebanyak 22.275 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi untuk mendukung program ini.
Dengan jumlah dapur yang sudah berjalan tersebut, Presiden menyebut program MBG telah menciptakan sekitar satu juta lapangan kerja. Setiap dapur diperkirakan mempekerjakan sekitar 50 orang yang menerima penghasilan harian.
Selain tenaga kerja langsung, keberadaan dapur SPPG juga mendorong keterlibatan pemasok bahan pangan di tingkat desa. Pemasok tersebut meliputi sayuran, telur, ikan, ayam, hingga daging. Setiap dapur diperkirakan melibatkan 10 hingga 20 pemasok.
Apabila target 82 juta penerima tercapai, program ini berpotensi menciptakan tiga hingga lima juta lapangan kerja. Presiden menegaskan bahwa kebutuhan rakyat terhadap pekerjaan menjadi salah satu fokus utama pemerintah.
“Saya buktikan kepada saudara, Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia, saya telah menghasilkan sekarang 1 juta lapangan kerja. Hanya dari MBG, dan ada tuduhan untuk menjelekkan kita sebagai bangsa,” kata Kepala Negara.
Tindakan Destruktif adalah Pidana
Presiden Prabowo menilai bahwa sikap saling mencela dan menghardik, termasuk aksi-aksi yang berujung pada kerusuhan, tidak akan menghasilkan lapangan kerja maupun membuka pabrik baru. Ia menegaskan bahwa aksi demonstrasi diperbolehkan sesuai ketentuan hukum.
Namun, tindakan yang mengarah pada pembakaran dan kekerasan merupakan perbuatan pidana yang membahayakan bangsa dan negara. “Demo boleh, tapi dia tidak berharap demo, dia berharap kerusuhan. Dan kerusuhan itu mencelakakan bangsa dan negara. Kerusuhan mencelakakan bangsa dan negara. Bakar-bakar, bom molotov, saya katakan itu membahayakan. Itu pidana,” ucapnya.
Lebih lanjut, Presiden menyampaikan keyakinannya bahwa sebagian kelompok yang kerap memicu aksi destruktif diduga berada di bawah pengaruh kekuatan asing. Ia mengimbau seluruh warga negara untuk lebih peduli terhadap kepentingan rakyat dan bangsa, serta menilai capaian pemerintah berdasarkan hasil yang nyata.
“Jadi kelompok-kelompok ini, sadar atau tidak sadar, saya yakin mereka dikendalikan oleh kekuatan asing. Yakin saya, dan saya punya bukti,” kata Presiden.
“Dan saya menghimbau mereka, hai warga negara Indonesia. Apakah kau tidak kasihan sama rakyatmu? Saudara-saudara, saya tadi sudah tayangkan capian-capian kita. Dan capian-capian ini real. Bukan omon-omon,” imbuhnya, menekankan pentingnya melihat bukti nyata dari kinerja pemerintah.
